HIDAYAH ALLAH BAGI MANUSIA
Oleh
: Awaluddinsyah, SPd.
Saudara-saudara
jama’ah Jum’at yang mulia,
Marilah kita bersyukur kepada Allah
swt. Karena kita telah diciptakan menjadi mahluk yang bernama manusia diantara
mahluk-mahluk ciptaan Allah yang ada dimuka bumi ini. Allah berikan kelebihan
kepada manusia dari mahluk lainnya, dengan akal dan pikiran. Allah berikan
martabat kepada manusia melebihi dari mahluk lainnya, dengan diberi rasa malu.
Allah berikan jauh lebih sempurna kepada manusia dari mahluk-mahluk lainnya,
dengan diberi ruhaniah.
Dengan diberikannya akal dan
fikiran, diberikannya rasa malu, dan diberikannya ruhaniah kepada manusia,
menjadikan manusia itu lebih mulia dari mahluk-mahluk lainnya. “WALAQOD KAROMNAA BANII ADAM” Artinya:”dan sesungguhnya telah Kami
muliakan manusia itu”(Al-Isro’:70).
Dengan akal dan fikiran kita dapat memilah baik dan buruk. Dengan rasa malu
kita dapat menjaga marwah diri. Dengan ruhaniah kita dapat mengenal Tuhan, dan
mengabdi kepada Allah.
Bagaimana jika akal fikiran yang ada
pada kita dicabut oleh Allah. Maka samalah dengan hewan. Bagaimana jika rasa
malu yang ada pada kita diambil oleh Allah. Maka samalah dengan orang gila.
Bagaimana jika ruhaniah kita diubah menjadi lebih buruk oleh Allah. Maka
samalah dengan Iblis yang durhaka kepada Allah.
Berkenaan dengan kemuliaan yang
diberikan oleh Allah kepada manusia, maka khutbah kita pada jum’at ini
mengambil judul: HIDAYATULLAH. Ada 4
macam hidayah yang diberikan Allah kepada manusia.
Pertama,
hidayatul ‘ilmun ilahiyah. Hidayah
ini diberikan kepada manusia, tetapi juga diberikan kepada mahluk lainnya,
yaitu kepada tumbuhan dan hewan. Dengan hidayah ini, tumbuhan dapat hidup.
Tanpa ada yang mengajarinya untuk hidup. Akarnya dapat menyerap dan memilih
zat-zat saripati tanah yang menjadi bahan makanannya. Daunnya dapat memproses,
memasak bahan makanan menjadi zat pertumbuhannya untuk membesar dan berkembang
biak. Selanjutnya, tumbuhan itu dapat berbunga dan berbuah, karena mendapat
petunjuk Allah yaitu, hidayatul ‘ilmun ilahiyah.
Dengan hidayah ini, hewan dapat
hidup. Tanpa ada yang mengajarinya. Berkeinginan untuk mencari makanan dan
kawin menyalurkan berahinya, dapat bertelur, mengerami telurnya hingga menetas,
memberi makan dan melindungi anaknya dari ancaman bahaya.
Dengan hidayah ini pula manusia
dapat hidup. Bayi yang baru dilahirkan, tanpa ada yang mengajarinya dapat
menghisap air susu ibunya, tanpa ada yang mengajarinya dapat membedakan rasa,
dan tanpa ada yang mengajarinya dapat menangis dan tersenyum. Semuanya dapat
dilakukan dengan sendirinya. Inilah hidayatul
‘ilmun ilahiyah. Yaitu Ilmu Allah langsung yang mengajarinya dengan
ilmu-Nya yang diberikan kepada semua mahluk hidup di alam dunia ini.
Kedua, hidayatul khawassiyyah. Hidayah
ini diberikan oleh Allah kepada manusia, juga kepada hewan. Yaitu hidayah untuk
indra-indra yang dimiliki oleh manusia dan hewan. Dengan hidayah ini manusia
dan hewan dapat menggunakan indra-indranya tanpa ada yang mengajarinya. Mata
dapat melihat dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal
bentuk, rupa dan warna. Hidung dapat membau dengan sendirinya. Dengan itu
manusia dan hewan dapat mengenal dan membedakan ragam penciuman. Telinga dapat
mendengar dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal dan
membedakan suara. Lidah dapat mengecap rasa dengan sendirinya. Dengan itu
manusia dan hewan dapat mengenal dan membedakan kelazatan makanan yang
dimakannya. Hidayatul khawassiyyah, adalah hidayah bagi indra manusia dan hewan
untuk mengenal alam sekitarnya. Sebagai alat perjuangan untuk menjalani
kehidupan.
Ketiga, hidayatul aqliyah.
Hidayah ini diberikan oleh Allah hanya kepada manusia saja, tidak kepada
tumbuhan, dan tidak kepada hewan. Yaitu hidayah untuk mempergunakan akal
fikiran sesuai dengan forsinya. Dengan itu manusia memiliki ilmu pengetahuan.
Hidayah ini menjadikan manusia lebih tinggi satu tingkat kedudukannya dari
hewan, dan lebih tinggi dua tingkat kedudukannya dari tumbuhan. Secara normal,
hidayatul aqliyah diberikan oleh Allah sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangan jasmaniah manusia.
Firman
Allah dalam Al-Qur’an, suroh An-Nahal, pada ayat yang ke 78 menyebutkan : “WALLAHU AKHROJAKUM MINBUTHUUNI UMMAHAA
TIKUM LAA TA’LAMUUNA SYAI ‘A” (dan Allah
mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatunya,) “WA
JA’ALA LAKUMUS SAM ’A WAL ABSHOOR WAL AF IDAH LA’AL LAKUM TASYKURUUN” (kemudian
Allah memberimu pendengaran, memberimu penglihatan, dan memberimu akal fikiran,
agar kamu bersyukur).
Ketika
seorang anak manusia dilahirkan kedunia ini, dengan keadaan tiada daya dan
upaya, tidak mengetahui apa-apa, tidak membawa sehelai benangpun. Lalu Allah memberikan kepadanya pendengaran, penglihatan,
dan akal fikiran sebagai perangkat kehidupan, alat yang dipergunakan oleh
manusia untuk mencari karunia Allah diatas dunia ini. Semua itu diberikan, agar
manusia dapat bersyukur atas karunia Allah. Bagi manusia yang tidak
mensyukurinya, maka Allah akan menurunkan martabat manusia itu lebih hina dari
mahluk lainnya.
Sebagaimana disebutkan Allah melalui
firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh Al-A’raf, pada ayat yang ke 179, yaitu: “LAHUM QULUUBUL LAAYAF QOHUUNA BIHAA”
(mereka ada akal dan fikiran, tetapi tidak dipergunakan dengan selayaknya)
“WALAHUM A’YUNUL LAAYUBSHIRUNA BIHAA” (dan mereka ada penglihatan, tetapi tidak
dipergunakan dengan sepatutnya), “WALAHUM ADZAANUN LAAYASMA’UUNA BIHAA” (dan mereka ada
pendengaran, tetapi tidak dipergunakan dengan sebaiknya) “UULAA IKA KAL AN ‘AAM
BALHUM ADHOLLU” (maka samalah derajatnya dengan hewan, bahkan lebih hina, lebih
sesat jalannya)
Keempat, hidayatul addinniyyah. Hidayah
ini diberikan oleh Allah juga hanya kepada manusia saja. Yaitu hidayah dalam
beragama, Hidayah untuk mengenal Tuhan, hidayah untuk mengabdi kepada Allah
Tuhan sekalian alam. Keinginan hawa nafsu, dan Akal fikiran harus ditundukkan oleh
aturan-aturan yang ada dalam agama, bukan agama yang ditaklukkan kepada akal. Melalui
hidayah dinniyyah, manusia mendapatkan petunjuk untuk beriman, berlaku thoat,
menjalankan amal ibadah, dan berahlak mulia. Kehidupan manusia di dunia ini,
jika tidak diatur oleh aturan agama, maka kehidupan manusia akan menjadi kacau,
bagaikan kehidupan hewan, yang hanya mengenal makan, minum tidur, dan kawin. Melalui
aturan agama, manusia dapat mengerti hukum halal dan haram, dapat mengetahui
tentang perbuatan baik dan buruk, adanya pahala dan dosa, meyakini adanya surga
dan neraka. Dan melalui hidayah beragamalah manusia meyakini adanya Tuhan yang
menciptakan seluruh alam semesta.
Ajaran agama, atau hidayatul
dinniyyah akan mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sehingga manusia itu
mengetahui hak dan kewajibannya kepada Tuhan. Inilah yang disebut dengan habblum
minallah. Demikian juga, ajaran agama akan mengatur hubungan manusia dengan
manusia lainnya, sehingga manusia itu mengetahui hak dan kewajibannya kepada
manusia lainnya. Inilah yang disebut dengan habblum minannas. Dengan hidayah
beragama ini manusia menjadi mahluk yang paling mulia dari mahluk-mahluk
lainnya yang ada di muka bumi ini. Itu adalah karunia Allah untuk ummat
manusia.
Firman Allah dalam Al-Qur’an, pada
surah Al-Isro’ ayat yang ke 70, menyebutkan: “WA FADH DHOLNAHUM ‘ALAA KASYIIRIM MIMMAN KHOLAQNAA TAFDHIILA” (dan Kami karuniakan kepada manusia, melebihi
dari karunia yang telah Kami berikan atas mahluk lainnya yang telah Kami
ciptakan).
Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang
mulia,
Sebagai kesimpulan khutbah kita,
bahwa manusia diciptakan oleh Allah dimuka bumi ini, dengan sesempurna-sempurna
kejadian, dengan sebaik-baik bentuk dan rupa, dengan diberi berbagai
keistimewaan oleh Allah menjadi mahluk yang mulia dimuka bumi ini. Marilah
karunia tersebut kita syukuri dengan mengabdi, menjalankan ketho’atan kepada
Allah swt. Menghindarkan diri dari perilaku dan perbuatan maksiat, menjaga
kemulyaan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Karena Allah telah memberikan
kepada kita 4 macam hidayah tersebut, maka marilah kita pergunakan hidayah
tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Amin ya robbal alamin.
WA
QUR ROBBIGHFIR WARHAM WA ANTA KHOIRUR ROOHIMIIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar