Kamis, 20 September 2012

HIDAYAH ALLAH BAGI MANUSIA


HIDAYAH ALLAH BAGI MANUSIA
                                                                                Oleh : Awaluddinsyah, SPd.

          Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
            Marilah kita bersyukur kepada Allah swt. Karena kita telah diciptakan menjadi mahluk yang bernama manusia diantara mahluk-mahluk ciptaan Allah yang ada dimuka bumi ini. Allah berikan kelebihan kepada manusia dari mahluk lainnya, dengan akal dan pikiran. Allah berikan martabat kepada manusia melebihi dari mahluk lainnya, dengan diberi rasa malu. Allah berikan jauh lebih sempurna kepada manusia dari mahluk-mahluk lainnya, dengan diberi ruhaniah.

            Dengan diberikannya akal dan fikiran, diberikannya rasa malu, dan diberikannya ruhaniah kepada manusia, menjadikan manusia itu lebih mulia dari mahluk-mahluk lainnya. “WALAQOD KAROMNAA BANII ADAM” Artinya:”dan sesungguhnya telah Kami muliakan manusia itu”(Al-Isro’:70). Dengan akal dan fikiran kita dapat memilah baik dan buruk. Dengan rasa malu kita dapat menjaga marwah diri. Dengan ruhaniah kita dapat mengenal Tuhan, dan mengabdi kepada Allah.                   

            Bagaimana jika akal fikiran yang ada pada kita dicabut oleh Allah. Maka samalah dengan hewan. Bagaimana jika rasa malu yang ada pada kita diambil oleh Allah. Maka samalah dengan orang gila. Bagaimana jika ruhaniah kita diubah menjadi lebih buruk oleh Allah. Maka samalah dengan Iblis yang durhaka kepada Allah.

            Berkenaan dengan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, maka khutbah kita pada jum’at ini mengambil judul: HIDAYATULLAH. Ada 4 macam hidayah yang diberikan Allah kepada manusia.

            Pertama, hidayatul ‘ilmun ilahiyah. Hidayah ini diberikan kepada manusia, tetapi juga diberikan kepada mahluk lainnya, yaitu kepada tumbuhan dan hewan. Dengan hidayah ini, tumbuhan dapat hidup. Tanpa ada yang mengajarinya untuk hidup. Akarnya dapat menyerap dan memilih zat-zat saripati tanah yang menjadi bahan makanannya. Daunnya dapat memproses, memasak bahan makanan menjadi zat pertumbuhannya untuk membesar dan berkembang biak. Selanjutnya, tumbuhan itu dapat berbunga dan berbuah, karena mendapat petunjuk Allah yaitu, hidayatul ‘ilmun ilahiyah.

            Dengan hidayah ini, hewan dapat hidup. Tanpa ada yang mengajarinya. Berkeinginan untuk mencari makanan dan kawin menyalurkan berahinya, dapat bertelur, mengerami telurnya hingga menetas, memberi makan dan melindungi anaknya dari ancaman bahaya.

            Dengan hidayah ini pula manusia dapat hidup. Bayi yang baru dilahirkan, tanpa ada yang mengajarinya dapat menghisap air susu ibunya, tanpa ada yang mengajarinya dapat membedakan rasa, dan tanpa ada yang mengajarinya dapat menangis dan tersenyum. Semuanya dapat dilakukan dengan sendirinya. Inilah hidayatul ‘ilmun ilahiyah. Yaitu Ilmu Allah langsung yang mengajarinya dengan ilmu-Nya yang diberikan kepada semua mahluk  hidup di alam dunia ini.

Kedua, hidayatul khawassiyyah. Hidayah ini diberikan oleh Allah kepada manusia, juga kepada hewan. Yaitu hidayah untuk indra-indra yang dimiliki oleh manusia dan hewan. Dengan hidayah ini manusia dan hewan dapat menggunakan indra-indranya tanpa ada yang mengajarinya. Mata dapat melihat dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal bentuk, rupa dan warna. Hidung dapat membau dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal dan membedakan ragam penciuman. Telinga dapat mendengar dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal dan membedakan suara. Lidah dapat mengecap rasa dengan sendirinya. Dengan itu manusia dan hewan dapat mengenal dan membedakan kelazatan makanan yang dimakannya. Hidayatul khawassiyyah, adalah hidayah bagi indra manusia dan hewan untuk mengenal alam sekitarnya. Sebagai alat perjuangan untuk menjalani kehidupan.

            Ketiga, hidayatul aqliyah. Hidayah ini diberikan oleh Allah hanya kepada manusia saja, tidak kepada tumbuhan, dan tidak kepada hewan. Yaitu hidayah untuk mempergunakan akal fikiran sesuai dengan forsinya. Dengan itu manusia memiliki ilmu pengetahuan. Hidayah ini menjadikan manusia lebih tinggi satu tingkat kedudukannya dari hewan, dan lebih tinggi dua tingkat kedudukannya dari tumbuhan. Secara normal, hidayatul aqliyah diberikan oleh Allah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jasmaniah manusia.

Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh An-Nahal, pada ayat yang ke 78 menyebutkan : “WALLAHU AKHROJAKUM MINBUTHUUNI UMMAHAA TIKUM LAA TA’LAMUUNA SYAI ‘A”  (dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatunya,) “WA JA’ALA LAKUMUS SAM ’A WAL ABSHOOR WAL AF IDAH LA’AL LAKUM TASYKURUUN” (kemudian Allah memberimu pendengaran, memberimu penglihatan, dan memberimu akal fikiran, agar kamu bersyukur).

            Ketika seorang anak manusia dilahirkan kedunia ini, dengan keadaan tiada daya dan upaya, tidak mengetahui apa-apa, tidak membawa sehelai benangpun. Lalu  Allah memberikan kepadanya pendengaran, penglihatan, dan akal fikiran sebagai perangkat kehidupan, alat yang dipergunakan oleh manusia untuk mencari karunia Allah  diatas dunia ini. Semua itu diberikan, agar manusia dapat bersyukur atas karunia Allah. Bagi manusia yang tidak mensyukurinya, maka Allah akan menurunkan martabat manusia itu lebih hina dari mahluk lainnya.

            Sebagaimana disebutkan Allah melalui firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh Al-A’raf, pada ayat yang ke 179, yaitu: “LAHUM QULUUBUL LAAYAF QOHUUNA BIHAA” (mereka ada akal dan fikiran, tetapi tidak dipergunakan dengan selayaknya) “WALAHUM A’YUNUL LAAYUBSHIRUNA BIHAA” (dan mereka ada penglihatan, tetapi tidak dipergunakan dengan sepatutnya), “WALAHUM  ADZAANUN LAAYASMA’UUNA BIHAA” (dan mereka ada pendengaran, tetapi tidak dipergunakan dengan sebaiknya) “UULAA IKA KAL AN ‘AAM BALHUM ADHOLLU” (maka samalah derajatnya dengan hewan, bahkan lebih hina, lebih sesat jalannya)

Keempat, hidayatul addinniyyah. Hidayah ini diberikan oleh Allah juga hanya kepada manusia saja. Yaitu hidayah dalam beragama, Hidayah untuk mengenal Tuhan, hidayah untuk mengabdi kepada Allah Tuhan sekalian alam. Keinginan hawa nafsu, dan Akal fikiran harus ditundukkan oleh aturan-aturan yang ada dalam agama, bukan agama yang ditaklukkan kepada akal. Melalui hidayah dinniyyah, manusia mendapatkan petunjuk untuk beriman, berlaku thoat, menjalankan amal ibadah, dan berahlak mulia. Kehidupan manusia di dunia ini, jika tidak diatur oleh aturan agama, maka kehidupan manusia akan menjadi kacau, bagaikan kehidupan hewan, yang hanya mengenal makan, minum tidur, dan kawin. Melalui aturan agama, manusia dapat mengerti hukum halal dan haram, dapat mengetahui tentang perbuatan baik dan buruk, adanya pahala dan dosa, meyakini adanya surga dan neraka. Dan melalui hidayah beragamalah manusia meyakini adanya Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta.

            Ajaran agama, atau hidayatul dinniyyah akan mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sehingga manusia itu mengetahui hak dan kewajibannya kepada Tuhan. Inilah yang disebut dengan habblum minallah. Demikian juga, ajaran agama akan mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, sehingga manusia itu mengetahui hak dan kewajibannya kepada manusia lainnya. Inilah yang disebut dengan habblum minannas. Dengan hidayah beragama ini manusia menjadi mahluk yang paling mulia dari mahluk-mahluk lainnya yang ada di muka bumi ini. Itu adalah karunia Allah untuk ummat manusia.

            Firman Allah dalam Al-Qur’an, pada surah Al-Isro’ ayat yang ke 70, menyebutkan: “WA FADH DHOLNAHUM ‘ALAA KASYIIRIM MIMMAN KHOLAQNAA TAFDHIILA”  (dan Kami karuniakan kepada manusia, melebihi dari karunia yang telah Kami berikan atas mahluk lainnya yang telah Kami ciptakan).

            Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
            Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa manusia diciptakan oleh Allah dimuka bumi ini, dengan sesempurna-sempurna kejadian, dengan sebaik-baik bentuk dan rupa, dengan diberi berbagai keistimewaan oleh Allah menjadi mahluk yang mulia dimuka bumi ini. Marilah karunia tersebut kita syukuri dengan mengabdi, menjalankan ketho’atan kepada Allah swt. Menghindarkan diri dari perilaku dan perbuatan maksiat, menjaga kemulyaan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Karena Allah telah memberikan kepada kita 4 macam hidayah tersebut, maka marilah kita pergunakan hidayah tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Amin ya robbal alamin.

WA QUR ROBBIGHFIR WARHAM WA ANTA KHOIRUR ROOHIMIIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar