Kamis, 20 September 2012

PENGHUNI SYURGA


PENGHUNI SYURGA
                                                                                                            Oleh:Awaluddinsyah,SPd

            Saudara-saudara jamaah Jumat yang mulia,
Dalam situasi dan kondisi apapun marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah swt, dengan meninggalkan larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Semoga dengan mematuhi peraturan Allah, dapat mengantarkan kehidupan kita menjadi manusia yang bertaqwa.

          Saudara-saudara yang dirahmati Allah,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Annasa’i , Annas bin Malik menceritakan kejadian yang dialaminya, di suatu majelis ketika bersama Rasulullah saw.

          Kata Annas bin Malik: “ pada suatu hari, kami duduk dalam majelis bersama Rasulullah, kemudian Rasulullah bersabda, sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga “

          Diantara para sahabat yang mendengar ucapan Rasulullah tersebut adalah Abdullah bin Amru bin Ash. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu, ia melakukan pengamatan dengan cermat. Ia ingin mengetahui siapakah orang yang dimaksud oleh Rasulullah tersebut sebagai penghuni syurga.

Tidak berselang lama dari ucapan Rasulullah, muncullah seorang laki-laki dari golongan anshar, dan janggutnya masih basah dengan air wudhu’, lalu memberi salam, kemudian masuk dan ikut duduk di majelis.

Esok harinya, Rasullah saw berkata begitu juga. “ sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga “ dan tidak berapa lama muncullah seorang laki-laki yang sama pula.

Begitulah, Nabi saw. Mengulang sampai tiga kali selama tiga hari berturut-turut, dan tetap itu-itu saja orangnya. Sehingga Abdullah bin Amru bin Ash merasa sangat yakin bahwa orang tersebutlah yang dimaksud oleh Rasulullah saw.

Ketika majelis Rasulullah selesai, seorang sahabat yang senantiasa melakukan pengamatan dengan cermat, yaitu Abdullah bin Amru bin Ash, mengikuti kepergian laki-laki itu, yang disebut Nabi sebagai penghuni syurga sampai kerumahnya. Dan tinggallah Abdullah bin Amru bin Ash di rumah orang tersebut selama tiga malam, tujuannya untuk menyaksikan ibadah apa yang dilakukan oleh orang itu sampai-sampai Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni syurga. Tetapi selama tiga malam itu pula, Abdullah bin Amru bin Ash tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya. Ibadah orang itu hanya biasa-biasa saja. Hanya saja, setiap kali ia hendak tidur, Ia berdoa kepada Allah agar dirinya, Ibu Bapaknya diampuni oleh Allah. Dan Ia memohonkan ampunan untuk orang-orang yang bersalah kepadanya. Sebelum orang-orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Karena rasa penasarannya, Abdullah bin Amru bin Ash bertanya kepada orang tersebut. “ Hai hamba Allah, aku mendengar Rasulullah saw berkata tentang diri mu, bahwa engkau adalah penghuni syurga, aku mengikutimu dan tinggal bersama mu, hanya ingin mengetahui amal ibadah yang engkau kerjakan, agar aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku dapat mencapai kedudukan seperti diri mu. Apakah yang menjadi amalan dan ibadah mu wahai hamba Allah ? “

Laki-laki itu menjawab: “ Demi Allah, ibadahku tidak lebih dari apa yang engkau saksikan. Hanya saja, aku tidak pernah menyimpan rasa iri dan dengki, aku tidak pernah menyakiti, menghianati, dan memusuhi kaum muslimin. Bahkan aku tidak pernah meyimpan pada diriku, sekali pun itu niat buruk kepada sesama kaum muslimin “

Dengan jawaban seperti itu, menjadi tahulah Abdullah bin Amru bin Ash, mengapa Rasulullah menyebutnya sebagai Ahli syurga. Kemudian Abdullah bin Amru bin Ash berkata: “ Alangkah bersihnya hati mu, inilah yang menyebabkan engkau sampai ketempat yang terpuji “
                                                 
          Saudara-saudara jamaah Jumat yang mulia,
Dari riwayat tersebut, dapat diambil pelajaran, bahwa mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah tidak hanya melalui ibadah saja. Orang yang diriwayatkan dalam hadits Rasulullah tersebut, dapat mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan menjadi penghuni syurga, bukan karena keistimewaan ibadahnya, tetapi karena kebersihan hatinya dan kecintaan serta ketulusannya terhadap sesama kaum muslimin, sehingga timbul kerelaan dan keihlasan menerima sesama kaum muslimin menjadi saudaranya seiman.

Firman Allah: “INNAMAL MU’MINUUNA IKHWATUN, FA ASHLIKHUU BAINA AKHOWAIKUM, WATTAQULLOHA LA’ALLAKUM TURHAMUUN”. (sesungguhnya sesama kaum muslimin itu adalah bersaudara, maka jika terjadi perselisihan diantara kamu, maka damaikanlah. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, nicaya kamu mendapat rahmat)
Mudah-mudahan, khutbah yang disampaikan ini dapat bermamfaat bagi kita semuanya untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama kaum muslimin.

BAROKALLOHU LII WALAKUM WA LISA IRIL MU’MINIINA INNAHU HUWAL GHOFURURROHIIM


Tidak ada komentar:

Posting Komentar