PENGHUNI
SYURGA
Oleh:Awaluddinsyah,SPd
Saudara-saudara jamaah Jumat yang
mulia,
Dalam situasi dan kondisi apapun
marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah swt, dengan meninggalkan
larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Semoga dengan mematuhi peraturan
Allah, dapat mengantarkan kehidupan kita menjadi manusia yang bertaqwa.
Saudara-saudara
yang dirahmati Allah,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Ahmad dan Annasa’i , Annas bin Malik menceritakan kejadian yang
dialaminya, di suatu majelis ketika bersama Rasulullah saw.
Kata
Annas bin Malik: “ pada suatu hari, kami
duduk dalam majelis bersama Rasulullah, kemudian Rasulullah bersabda, sebentar
lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga “
Diantara
para sahabat yang mendengar ucapan Rasulullah tersebut adalah Abdullah bin Amru
bin Ash. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu, ia melakukan
pengamatan dengan cermat. Ia ingin mengetahui siapakah orang yang dimaksud oleh
Rasulullah tersebut sebagai penghuni syurga.
Tidak berselang lama dari ucapan
Rasulullah, muncullah seorang laki-laki dari golongan anshar, dan janggutnya
masih basah dengan air wudhu’, lalu memberi salam, kemudian masuk dan ikut duduk
di majelis.
Esok harinya, Rasullah saw berkata
begitu juga. “ sebentar lagi akan muncul
di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga “ dan tidak berapa lama
muncullah seorang laki-laki yang sama pula.
Begitulah, Nabi saw. Mengulang sampai
tiga kali selama tiga hari berturut-turut, dan tetap itu-itu saja orangnya.
Sehingga Abdullah bin Amru bin Ash merasa sangat yakin bahwa orang tersebutlah
yang dimaksud oleh Rasulullah saw.
Ketika majelis Rasulullah selesai,
seorang sahabat yang senantiasa melakukan pengamatan dengan cermat, yaitu
Abdullah bin Amru bin Ash, mengikuti kepergian laki-laki itu, yang disebut Nabi
sebagai penghuni syurga sampai kerumahnya. Dan tinggallah Abdullah bin Amru bin
Ash di rumah orang tersebut selama tiga malam, tujuannya untuk menyaksikan
ibadah apa yang dilakukan oleh orang itu sampai-sampai Rasulullah menyebutnya
sebagai penghuni syurga. Tetapi selama tiga malam itu pula, Abdullah bin Amru
bin Ash tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya. Ibadah
orang itu hanya biasa-biasa saja. Hanya saja, setiap kali ia hendak tidur, Ia
berdoa kepada Allah agar dirinya, Ibu Bapaknya diampuni oleh Allah. Dan Ia
memohonkan ampunan untuk orang-orang yang bersalah kepadanya. Sebelum
orang-orang tersebut meminta maaf kepadanya.
Karena rasa penasarannya, Abdullah
bin Amru bin Ash bertanya kepada orang tersebut. “ Hai hamba Allah, aku mendengar Rasulullah saw berkata tentang diri mu,
bahwa engkau adalah penghuni syurga, aku mengikutimu dan tinggal bersama mu,
hanya ingin mengetahui amal ibadah yang engkau kerjakan, agar aku dapat
menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku dapat mencapai kedudukan
seperti diri mu. Apakah yang menjadi amalan dan ibadah mu wahai hamba Allah ? “
Laki-laki itu menjawab: “ Demi Allah, ibadahku tidak lebih dari apa
yang engkau saksikan. Hanya saja, aku tidak pernah menyimpan rasa iri dan
dengki, aku tidak pernah menyakiti, menghianati, dan memusuhi kaum muslimin.
Bahkan aku tidak pernah meyimpan pada diriku, sekali pun itu niat buruk kepada sesama
kaum muslimin “
Dengan jawaban seperti itu, menjadi
tahulah Abdullah bin Amru bin Ash, mengapa Rasulullah menyebutnya sebagai Ahli
syurga. Kemudian Abdullah bin Amru bin Ash berkata: “ Alangkah bersihnya hati mu, inilah yang menyebabkan engkau sampai
ketempat yang terpuji “
Saudara-saudara
jamaah Jumat yang mulia,
Dari riwayat tersebut, dapat diambil
pelajaran, bahwa mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah tidak hanya
melalui ibadah saja. Orang yang diriwayatkan dalam hadits Rasulullah tersebut,
dapat mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan menjadi penghuni syurga,
bukan karena keistimewaan ibadahnya, tetapi karena kebersihan hatinya dan
kecintaan serta ketulusannya terhadap sesama kaum muslimin, sehingga timbul
kerelaan dan keihlasan menerima sesama kaum muslimin menjadi saudaranya seiman.
Firman Allah: “INNAMAL MU’MINUUNA IKHWATUN, FA ASHLIKHUU BAINA AKHOWAIKUM,
WATTAQULLOHA LA’ALLAKUM TURHAMUUN”. (sesungguhnya
sesama kaum muslimin itu adalah bersaudara, maka jika terjadi perselisihan
diantara kamu, maka damaikanlah. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, nicaya kamu
mendapat rahmat)
Mudah-mudahan, khutbah yang
disampaikan ini dapat bermamfaat bagi kita semuanya untuk memperkuat ukhuwah
islamiyah, persaudaraan sesama kaum muslimin.
BAROKALLOHU LII WALAKUM WA LISA IRIL
MU’MINIINA INNAHU HUWAL GHOFURURROHIIM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar