KEDUDUKAN IKHLASH DALAM IBADAH
Oleh:
Awaluddinsyah, SPd
ALHAMDULILLAHILLAZII YAHDII MAYYASYAA’U ILAA SHIROTHIM
MUSTAQIIM. NAHMADUHU SUBKHAANAHU WA HUWAL BARRURROHIIM. ASYHADU ANLAA ILAHA
ILLALLAAHUL MALIKUL HAQQUL MUBIIN. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA
ROSUULUHUSH SHOODIQUL WA’DIL AMIIN. ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ‘ALAA
SAYYIDINAA MUHAMMADIW WA ‘ALAA ALIHI WA ASHKHAABIHI AJMA’IIN. AMMAA BA’DU.
FAYAA AYYUHAL MUSLIMUUNAL KIROOM.
UUSHIIKUM WA IYYAAYA BITAQWAALLAAH, WA THOO ‘ATIHI LA’ALLAKUM TUFLIKHUUN
Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang mulia,
Dalam setiap ibadah, ibadah apapun namanya, apakah itu
ibadah sunnat atau pun wajib, Niat adalah rukun pertama, dan yang paling utama. Karena niatlah yang menentukan untuk
apa kita beribadah, niatlah yang menentukan untuk siapa kita beribadah, dan
niatlah yang menentukan kemana tujuan kita beribadah.
Niat,
menurut bahasa dapat berarti maksud,
atau tujuan. Yang bermakna, bahwa pada
setiap niat terkandung maksud, dan setiap maksud mengkehendaki tujuan, dan setiap
tujuan mengkehendaki usaha sesuai dengan niatnya. Sedangkan arti niat menurut pengertian syara’,
sebagaimana para ahli fiqih mendefinisikan : “ANNIYYATU QOSHDU SYAI’IN MUQTARINAN BIFIQLIHI” ( niat ialah menyengaja
sesuatu hal yang diiringi dengan usaha perbuatan ). Adapun kedudukan niat
dalam ibadah, sebagaimana sabda Nabi saw.“INNAMAL
A’MALU BINNIYYAH“ ( sesungguhnya amal ibadah itu dengan niat, sesungguhnya sah
atau tidaknya amal ibadah yang dikerjakan itu tergantung pada niatnya ).
Dengan demikian, niat adalah asal semula jadinya amal,
niat adalah cikal bakalnya amal, niatlah yang menentukan kemana diarahkan amal
tersebut, menjadi amal dunia atau menjadi amal
akhirat. Sabda Nabi: “KAM MIN ‘AMALIN
YATASHOWWARU BISHUUROTI A’MAALIN
AHLIDDUNYAA” ( berapa banyak amal ibadah yang seolah-olah kelihatan seperti
perbuatan dunia ), “ FAYASHIIRU BIKHUSNIN NIYYAH MIN A’MAALIL AKHIROH” (
tetapi dikarenakan kebaikan niatnya perbuatan dunia tersebut menjadi amal
akhirat ). “WA KAM MIN ‘AMALIN YATASHOWWARU BISHUUROTIN A’MAALIL AKHIROH” ( dan
berapa banyak perbuatan yang seolah-olah kelihatan seperti amal akhirat ), “FAYASHIIRU MIN A’MALID DUNYAA BISUU’IN
NIYYAH” ( tapi perbuatan tersebut menjadi amal dunia, dikarenakan keburukan niatnya
). Pengertiannya, bisa saja perbuatan dunia berubah menjadi amal akhirat,
karena niatnya yang baik, dan bisa saja
amal akhirat berubah menjadi perbuatan
dunia dikarenakan niatnya yang buruk.
Saudara-saudara
jamaah Jumat yang mulia,
Niat adalah rukun Qolbiyah, “ANNIYYATI BIL QOLBII” ( niat itu
ada di dalam hati ), yaitu: sesuatu pekerjaan yang dilakukan oleh hati,
bukan pekerjaan yang dilakukan oleh lidah. “LAA
SHAUTIN WA LAA HARFIN “ ( bentuk dan rupa niat tidak bersuara dan tidak
berhuruf ). Lidah hanya
mengucapkan lafaz niat, merupakan
terjemahan dari kata hati yang dinyatakan melalui ucapan sebagai pernyataan, dan
wajib dibuktikan dengan perbuatan.
Dalam kaji sifat dua puluh, Niat
sebagai rukun qolbiyah, takluk kepada sifat ILMUN, yang artinya: Niat seseorang
itu dalam beribadah diketahui oleh Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Suroh
An-Nahl, pada ayat yang ke 19, menyebutkan :
ª!$#ur ÞOn=÷èt $tB crÅ¡è@ $tBur cqãZÎ=÷èè? ÇÊÒÈ
“WALLAAHU YA’LAMU MAATUSSIRRUNA WA MAA TU’LINUUN “ ( dan Allah
mengetahui, apa yang kamu sembunyikan dalam hatimu, dan apa yang kamu nyatakan
dengan ucapan dan perbuatanmu ). Kalau kepada manusia kita dapat
berpura-pura, kalau kepada manusia kita dapat berbohong, kalau kepada manusia
kita dapat berahasia, Tapi kepada Allah,
kita tidak bisa bersembunyi, sejak dari bathiniyah, ruhaniyah dan jasmaniah
kita dalam genggaman pengetahuan Allah. Kalau kita beribadah karena malu, Allah
tahu. Kalau kita beribadah ingin disanjung dan dipuji, Allah mengerti. Kalau kita
beribadah ingin mendapatkan imbalan pahala dari Nya, Allah melihatnya.
Apa yang dikehendaki oleh niat? Apa
yang mengiringi niat kita dalam beribadah? “ ANNAASU KULLUHUM HALAKAA ILAL MU’MINUUN “ ( manusia semuanya binasa,
kecuali orang yang beriman ), “ WAL
MU’MINUUNA KULLUHUM HALAKAA ILAL ‘AAMILUUN “ ( dan orang yang beriman juga
semuanya binasa, kecuali orang yang beramal ), “WAL ‘AAMILUUNA KULLUHUM HALAKAA
ILAL MUKHLISHUUN” ( dan orang yang beramal pun semuanya binasa, kecuali orang yang ikhlas ). Pengertiannya, manusia
tanpa iman hidupnya celaka, iman tanpa amal adalah dusta, dan amal tanpa ikhlas
tiada berguna. Ikhlaslah yang dikehendaki dan mengiringi iman, ikhlaslah yang
dikehendaki dan mengiringi amal ibadah.
Saudara-saudara
jamaah Jumat yang mulia,
Kita sebagai manusia biasa, yang serba memiliki
kekurangan dan kelemahan, kadang kala merasa bahwa keinginan-keinginan kita itu
dibatasi dengan aturan-aturan yang ada. Yaitu aturan masyarakat, aturan adat
istiadat, dan lebih-lebih aturan syari’at agama. Rasanya kita ingin bebas dari
segala aturan tersebut, untuk menikmati segala corak, pernak-pernik dalam
kehidupan dunia ini, tanpa ada yang menghalanginya. Tapi, sadarkah kita bahwa
itu sebenarnya hanya keinginan hawanafsu semata. Kehendak hawanafsu, memang
ingin bebas dari aturan, memang ingin lepas dari rasa keterikatan, lalu
munculah sikap berontak dalam diri kita, yakni untuk melepaskan diri, bebas
dari aturan agama. Hal itu terjadi apabila keyakinan dalam beragama itu
didasari dengan keterpaksaan. Maka agama bagaikan penghalang yang membatasi
aktivitas kehidupan, aturan dan hukum bagaikan penjara yang menyiksa keinginan,
ibadah yang dilaksanakan bagaikan beban
yang menggelisahkan. Tetapi bila keyakinan dalam beragama itu, dilandasi
dengan kesadaran, maka ibadah yang dilaksanakan adalah sebagai pengabdian yang
menyenangkan. Jika kita telah rela, menerima dengan tulus keberadaan Islam
menjadi keyakinan hidup, maka ibadah yang dilaksanakan, disertai dengan niat
yang ikhlas hanya kepada Allah.
Firman Allah dalam Al-Qur’an, Suroh Al-Bayyinah, pada
ayat yang ke 5. menyebutkan :
!$tBur (#ÿrâÉDé& wÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm
“WAMAA UMIRUU ILLA LIYA’BUDUULLAAHA MUKHLISHIINA
LAHUDDIINA KHUNAFAA’A” (Dan, padahal mereka tidak diperintah, kecuali supaya mengabdi kepada
Allah dengan mengikhlaskan ketho’atan kepada Nya, dalam menjalankan agama yang lurus)
Pada ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa, pengabdian
menjalankan ketho’atan dalam beragama, dilandasi dengan keikhlasan kepada
Allah, sehingga pelaksanaan ibadah, jangan dianggap merupakan perintah, jangan
dianggap merupakan kewajiban, dan jangan dianggab sebagai beban, tetapi
merupakan pengabdian yang membahagiakan dengan rasa cinta yang tulus kepada
Allah swt.
Apa itu Ikhlash? “AL
IKHLASH WA HUWALLADZII YUROO DUBIHI WAJHALLAHI TA ‘AALAA LAA GHOIROHU” ( ikhlash
ialah amal yang dituju dengan Allah, untuk mencari keridhoan Allah semata,
tidak karena lainnya ). Dengan Allah, dari Allah, kepada Allah, dan untuk
Allah.
Apa sebabnya keikhlassan dituntut
dalam ibadah? Karena iman tanpa amal seperti pohon tidak berbuah, dan amal
tanpa ikhlash seperti buah yang busuk dimakan ulat. Ikhlas memurnikan ibadah,
dan ikhlash mensucikan ibadah. Allah itu maha suci, dan mengkehendaki kesucian.
Hadist Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Darut Quthni, menyebutkan : “AKHLISHUU A’MAALAKUM LILLAAHI” (
ikhlaskanlah setiap amal ibadahmu hanya kepada Allah ) “FA INNALLOOHA LAA YAQBALU ILLA MAA KHULISHO
LAHU” ( karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu ibadah, melainkan
dengan keihlasan kepada Nya )
Saudara-saudara Jamaah Jumat yang mulia,
Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa Ikhlas
menempati kedudukan yang paling tinggi dalam amal ibadah, sehingga Nabi saw.
bersabda : “AKHLISH DIINAKA YAKFIKAL
‘AMALUL QOLIIL” ( ikhlaskanlah urusan agamamu, niscaya cukuplah untukmu amal
yang sedikit ). Jangan salah memahamkannya, hadits ini bukan berarti bermalas-malasan
dalam beribadah dan hanya memadakan amal yang sedikit saja, tetapi maksud
hadits ini adalah, bahwa amal yang sedikit nilainya dapat menjadi besar, apabila
disertai dengan ikhlas. Dan amal yang banyak, tidak bernilai apa-apa, jika
tidak disertai dengan keikhlasan.
Ulama besar, Musthafa Al-Ghalayaini
dalam kitabnya Izatun Nassyi’in mengatakan : “AL ‘AMALU JISMUN RUUKH HUL IKHLAASH” ( amal itu laksana tubuh, ruhnya
ialah ikhlas ), dengan demikian, amal tanpa ikhlas seperti tubuh tak
bernyawa. Marilah kita belajar dan melatih diri untuk menjadi hamba yang ikhlas,
sehingga denyut nadi, detak jantung, tarikan dan hembusan nafas, serta gerak
dan langkah kita dalam beribadah senantiasa diiringi dengan keikhlasan kepada
Allah swt. Aamiin ya Allah.
BAAROKALLAAHU LII WALAKUM BIL AYAATI
WADZDZIKRIL HAKIIM. WA TAQOBBAL MINNII WA MINKUM TILAA WATAHUU INNAHUU
HUWASSAMII’UL ‘ALIIM. WASTAGHFIRULLAHA LII WALAKUM INNAHU HUWAL GHOFURURROHIIM FAYAA FAUJAL
MUSTAGHFIRIIN WAYAA NAJAA TATTA ‘IBIIN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar