Kamis, 20 September 2012

KEDUDUKAN IKHLASH DALAM IBADAH


KEDUDUKAN IKHLASH DALAM IBADAH
Oleh: Awaluddinsyah, SPd

ALHAMDULILLAHILLAZII YAHDII MAYYASYAA’U ILAA SHIROTHIM MUSTAQIIM. NAHMADUHU SUBKHAANAHU WA HUWAL BARRURROHIIM. ASYHADU ANLAA ILAHA ILLALLAAHUL MALIKUL HAQQUL MUBIIN. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA ROSUULUHUSH SHOODIQUL WA’DIL AMIIN. ALLAHUMMA SHOLLI WA SALLIM WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIW WA ‘ALAA ALIHI WA ASHKHAABIHI AJMA’IIN. AMMAA BA’DU. FAYAA AYYUHAL MUSLIMUUNAL KIROOM.  UUSHIIKUM WA IYYAAYA BITAQWAALLAAH, WA THOO ‘ATIHI LA’ALLAKUM TUFLIKHUUN

Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang mulia,
Dalam setiap ibadah, ibadah apapun namanya, apakah itu ibadah sunnat atau pun wajib, Niat adalah rukun pertama, dan yang paling utama. Karena niatlah yang menentukan untuk apa kita beribadah, niatlah yang menentukan untuk siapa kita beribadah, dan niatlah yang menentukan kemana tujuan kita beribadah.         
         
          Niat, menurut bahasa dapat berarti maksud, atau tujuan. Yang bermakna, bahwa pada setiap niat terkandung maksud, dan setiap maksud mengkehendaki tujuan, dan setiap tujuan mengkehendaki usaha sesuai dengan niatnya.  Sedangkan arti niat menurut pengertian syara’, sebagaimana para ahli fiqih mendefinisikan : “ANNIYYATU QOSHDU SYAI’IN MUQTARINAN BIFIQLIHI” ( niat ialah menyengaja sesuatu hal yang diiringi dengan usaha perbuatan ). Adapun kedudukan niat dalam ibadah, sebagaimana sabda Nabi saw.“INNAMAL A’MALU BINNIYYAH“ ( sesungguhnya amal ibadah itu dengan niat, sesungguhnya sah atau tidaknya amal ibadah yang dikerjakan itu tergantung pada niatnya ).

          Dengan demikian, niat adalah asal semula jadinya amal, niat adalah cikal bakalnya amal, niatlah yang menentukan kemana diarahkan amal tersebut, menjadi amal dunia atau menjadi amal  akhirat. Sabda Nabi: “KAM MIN ‘AMALIN YATASHOWWARU  BISHUUROTI A’MAALIN AHLIDDUNYAA” ( berapa banyak amal ibadah yang seolah-olah kelihatan seperti perbuatan dunia ), “ FAYASHIIRU BIKHUSNIN NIYYAH MIN A’MAALIL AKHIROH”   ( tetapi dikarenakan kebaikan niatnya perbuatan dunia tersebut menjadi amal akhirat ). “WA KAM MIN ‘AMALIN YATASHOWWARU BISHUUROTIN A’MAALIL AKHIROH” ( dan berapa banyak perbuatan yang seolah-olah kelihatan seperti amal akhirat ),  “FAYASHIIRU MIN A’MALID DUNYAA BISUU’IN NIYYAH” ( tapi perbuatan tersebut menjadi amal dunia, dikarenakan keburukan niatnya ). Pengertiannya, bisa saja perbuatan dunia berubah menjadi amal akhirat, karena niatnya yang baik,  dan bisa saja amal akhirat berubah  menjadi perbuatan dunia dikarenakan niatnya yang buruk.

          Saudara-saudara jamaah Jumat yang mulia,
Niat adalah rukun Qolbiyah, “ANNIYYATI BIL QOLBII”  ( niat itu ada di dalam hati ), yaitu: sesuatu pekerjaan yang dilakukan oleh hati, bukan pekerjaan yang dilakukan oleh lidah. “LAA SHAUTIN WA LAA HARFIN “ ( bentuk dan rupa niat tidak bersuara dan tidak berhuruf ). Lidah hanya mengucapkan lafaz niat, merupakan terjemahan dari kata hati yang dinyatakan melalui ucapan sebagai pernyataan, dan wajib dibuktikan dengan perbuatan.   
         
          Dalam kaji sifat dua puluh, Niat sebagai rukun qolbiyah, takluk kepada sifat ILMUN, yang artinya: Niat seseorang itu dalam beribadah diketahui oleh Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Suroh An-Nahl, pada ayat yang ke 19, menyebutkan :
ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB šcrÅ¡è@ $tBur šcqãZÎ=÷èè? ÇÊÒÈ
WALLAAHU YA’LAMU MAATUSSIRRUNA WA MAA TU’LINUUN “ ( dan Allah mengetahui, apa yang kamu sembunyikan dalam hatimu, dan apa yang kamu nyatakan dengan ucapan dan perbuatanmu ). Kalau kepada manusia kita dapat berpura-pura, kalau kepada manusia kita dapat berbohong, kalau kepada manusia kita dapat  berahasia, Tapi kepada Allah, kita tidak bisa bersembunyi, sejak dari bathiniyah, ruhaniyah dan jasmaniah kita dalam genggaman pengetahuan Allah. Kalau kita beribadah karena malu, Allah tahu. Kalau kita beribadah ingin disanjung dan dipuji, Allah mengerti. Kalau kita beribadah ingin mendapatkan imbalan pahala dari Nya, Allah melihatnya.                                         
          Apa yang dikehendaki oleh niat? Apa yang mengiringi niat kita dalam beribadah? “ ANNAASU KULLUHUM HALAKAA ILAL MU’MINUUN “ ( manusia semuanya binasa, kecuali orang yang beriman ),  “ WAL MU’MINUUNA KULLUHUM HALAKAA ILAL ‘AAMILUUN “ ( dan orang yang beriman juga semuanya binasa, kecuali orang yang beramal ), “WAL ‘AAMILUUNA KULLUHUM HALAKAA ILAL MUKHLISHUUN” ( dan orang yang beramal pun semuanya binasa, kecuali orang  yang ikhlas ). Pengertiannya, manusia tanpa iman hidupnya celaka, iman tanpa amal adalah dusta, dan amal tanpa ikhlas tiada berguna. Ikhlaslah yang dikehendaki dan mengiringi iman, ikhlaslah yang dikehendaki dan mengiringi amal ibadah.

          Saudara-saudara jamaah Jumat yang mulia,
Kita sebagai manusia biasa, yang serba memiliki kekurangan dan kelemahan, kadang kala merasa bahwa keinginan-keinginan kita itu dibatasi dengan aturan-aturan yang ada. Yaitu aturan masyarakat, aturan adat istiadat, dan lebih-lebih aturan syari’at agama. Rasanya kita ingin bebas dari segala aturan tersebut, untuk menikmati segala corak, pernak-pernik dalam kehidupan dunia ini, tanpa ada yang menghalanginya. Tapi, sadarkah kita bahwa itu sebenarnya hanya keinginan hawanafsu semata. Kehendak hawanafsu, memang ingin bebas dari aturan, memang ingin lepas dari rasa keterikatan, lalu munculah sikap berontak dalam diri kita, yakni untuk melepaskan diri, bebas dari aturan agama. Hal itu terjadi apabila keyakinan dalam beragama itu didasari dengan keterpaksaan. Maka agama bagaikan penghalang yang membatasi aktivitas kehidupan, aturan dan hukum bagaikan penjara yang menyiksa keinginan, ibadah yang dilaksanakan bagaikan beban  yang menggelisahkan. Tetapi bila keyakinan dalam beragama itu, dilandasi dengan kesadaran, maka ibadah yang dilaksanakan adalah sebagai pengabdian yang menyenangkan. Jika kita telah rela, menerima dengan tulus keberadaan Islam menjadi keyakinan hidup, maka ibadah yang dilaksanakan, disertai dengan niat yang ikhlas hanya kepada Allah.

Firman Allah dalam Al-Qur’an, Suroh Al-Bayyinah, pada ayat yang ke 5. menyebutkan :
!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm
“WAMAA UMIRUU ILLA LIYA’BUDUULLAAHA MUKHLISHIINA LAHUDDIINA KHUNAFAA’A” (Dan, padahal mereka tidak  diperintah, kecuali supaya mengabdi kepada Allah dengan mengikhlaskan ketho’atan kepada Nya, dalam menjalankan agama  yang lurus)
                  
          Pada ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa, pengabdian menjalankan ketho’atan dalam beragama, dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah, sehingga pelaksanaan ibadah, jangan dianggap merupakan perintah, jangan dianggap merupakan kewajiban, dan jangan dianggab sebagai beban, tetapi merupakan pengabdian yang membahagiakan dengan rasa cinta yang tulus kepada Allah swt.

Apa itu Ikhlash? “AL IKHLASH WA HUWALLADZII YUROO DUBIHI WAJHALLAHI TA ‘AALAA LAA GHOIROHU” ( ikhlash ialah amal yang dituju dengan Allah, untuk mencari keridhoan Allah semata, tidak karena lainnya ). Dengan Allah, dari Allah, kepada Allah, dan untuk Allah.

          Apa sebabnya keikhlassan dituntut dalam ibadah? Karena iman tanpa amal seperti pohon tidak berbuah, dan amal tanpa ikhlash seperti buah yang busuk dimakan ulat. Ikhlas memurnikan ibadah, dan ikhlash mensucikan ibadah. Allah itu maha suci, dan mengkehendaki kesucian. Hadist Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Darut Quthni, menyebutkan : “AKHLISHUU A’MAALAKUM LILLAAHI” ( ikhlaskanlah setiap amal ibadahmu hanya kepada Allah )  “FA INNALLOOHA LAA YAQBALU ILLA MAA KHULISHO LAHU” ( karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu ibadah, melainkan dengan keihlasan kepada Nya )

          Saudara-saudara Jamaah Jumat yang mulia,
          Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa Ikhlas menempati kedudukan yang paling tinggi dalam amal ibadah, sehingga Nabi saw. bersabda : “AKHLISH DIINAKA YAKFIKAL ‘AMALUL QOLIIL” ( ikhlaskanlah urusan agamamu, niscaya cukuplah untukmu amal yang sedikit ). Jangan salah memahamkannya, hadits ini bukan berarti bermalas-malasan dalam beribadah dan hanya memadakan amal yang sedikit saja, tetapi maksud hadits ini adalah, bahwa amal yang sedikit nilainya dapat menjadi besar, apabila disertai dengan ikhlas. Dan amal yang banyak, tidak bernilai apa-apa, jika tidak disertai dengan keikhlasan.

          Ulama besar, Musthafa Al-Ghalayaini dalam kitabnya Izatun Nassyi’in  mengatakan : “AL ‘AMALU JISMUN RUUKH HUL IKHLAASH” ( amal itu laksana tubuh, ruhnya ialah ikhlas ), dengan demikian, amal tanpa ikhlas seperti tubuh tak bernyawa. Marilah kita belajar dan melatih diri untuk menjadi hamba yang ikhlas, sehingga denyut nadi, detak jantung, tarikan dan hembusan nafas, serta gerak dan langkah kita dalam beribadah senantiasa diiringi dengan keikhlasan kepada Allah swt. Aamiin ya Allah.
                                                                  
BAAROKALLAAHU LII WALAKUM BIL AYAATI WADZDZIKRIL HAKIIM. WA TAQOBBAL MINNII WA MINKUM TILAA WATAHUU INNAHUU HUWASSAMII’UL ‘ALIIM. WASTAGHFIRULLAHA LII WALAKUM  INNAHU HUWAL GHOFURURROHIIM FAYAA FAUJAL MUSTAGHFIRIIN WAYAA NAJAA TATTA ‘IBIIN.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar