ORANG - ORANG YANG MERUGI
Marilah
kita menginsafi diri, bahwa hanya kepada Allah swt, kita mengabdi. Karena
segala yang ada pada kita ini, pada hakekatnya bukan milik kita, yang dapat
kita pertahankan untuk selamanya. Diri kita ini, hidup kita, harta yang ada
sama kita, dan mati kita adalah milik Allah. Maka sangatlah pantas kita
mengabdi kepada Allah swt. dengan melakukan ketho’atan kepada Nya yang memiliki
segala kesempurnaan. Jangan mengabdikan diri kepada selain Allah, jangan
mengabdi kepada siluman, dan jangan mengabdi kepada harta, kalau hidup kita
ingin memperoleh keberuntungan serta keselamatan dunia dan akhirat.
Saudara-saudara
Jama’ah Jum’at yang mulia,
Adapun
judul khutbah kita adalah: ORANG-ORANG YANG MERUGI. Khatib merasa perlu untuk
mengangkat masalah ini, menyampaikan kepada jama’ah, dengan harapan agar kita
semua dapat menyadari arti kehidupan di dunia ini, dan jangan sampai hendaknya
menjadi orang yang merugi.
Ada 5 hal kecendrungan manusia yang dapat
melupakan makna hidup yang sebenarnya, dan melalaikan diri untuk tetap mengabdi
kepada Allah, sehingga manusia itu menjadi merugi disisi Allah swt.
Yang
pertama : YUKHIBBUUNAD
DUNYAA,WA YANSAUNAL AAKHIROH,(yaitu orang yang mencintai dunia, tetapi
melupakan akhirat). Gemerlapnya dunia memang menggoda manusia untuk menguji
keimanan, apakah kita dapat mempertahankannya atau meggadaikan keimanan demi
memperturutkan keinginan hawa nafsu semata, untuk menikmati kepuasan dunia, mencintai
dunia, dan hidupnya mengabdi kepada dunia, terjebak dalam kebahagiaan semu yang
serba palsu, sehingga melupakan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia adalah
kehidupan sementara, dunia hanya merupakan persinggahan, untuk mencari bekal
menuju kehidupan akhirat. Dunia yang dicintai beserta kemewahannya akan
ditinggalkan berpisah dengan kita, tidak dapat dibawa menyertai kita sampai ke
akhirat. Maka orang yang melupakan kehidupan akhirat, adalah orang yang
hidupnya merugi disisi Allah swt.
Yang
kedua :YUKHIBBUUNAL MAAL WA
YANSAUNAL KHISAAB,(cinta kepada harta lupa kepada perhitungan). Islam tidak
mengkehendaki ummatnya miskin, Islam tidak mengkehendaki hidup dalam kefaqiran,
Islam tidak melarang ummatnya mencari harta, Islam tidak melarang ummatnya
menjadi kaya, bahkan Islam memberikan semangat kerja untuk berusaha. Nabi saw. pernah
bersabda : “Bekerjalah kamu, berusahalah
kamu menggapai kehidupan dunia, seolah kamu hidup selamanya, tetapi jangan
lupa, beribadahlah kamu, seolah kamu akan mati esok harinya” Inilah azas
keseimbangan hidup yang dianut oleh Islam. Silakan mencari dan memperbanyak
harta, agar bisa berbagi kepada sesama, harta bukan untuk dicintai, harta tidak
dibawa mati. Harta adalah titipan untuk dapat dipergunakan sebagai sarana
mengabdi kepada Allah swt. Jangan sampai, harta menjadikan diri kita sombong, jangan
sampai, harta menjadikan diri kita lupa bersyukur, dan jangan sampai, harta
melalaikan pengabdian kita kepada allah. Sebagaimana telah disinggung oleh
firman Allah : “ALHAAKUMUTS TSAKAASYUR
KHATTAA ZURTUMUL MAQOOBIR” (kamu telah dilalaikan oleh perlombaan menumpuk
harta ,hingga kamu dimasukkan keliang kubur). Mengejar dan mencari harta sepanjang
hidup, dengan tidak memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya, halal atau
haram, diperoleh secara sah atau bathil, demikian pula penggunaannya, ia tidak
perduli apakah harta itu digunakan sesuai pada jalan yang dikehendaki oleh
Allah, adalah orang yang melupakan
perhitungan, karena hidupmya telah diperbudak oleh harta, padahal itu
semua akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Orang yang cinta kepada harta,
tetapi melupakan perhitungan, adalah orang yang merugi di sisi Allah swt.
Yang
ketiga : YUKHIBBUUNAL KHOLQO
WA YANSAUNAL KHOLIQ, (cinta kepada mahluk lupa kepada Tuhan). Bentuk cinta
seorang hamba kepada mahluk,adalah hidup saling menyayangi dan mengasihi dalam
batas-batas kewajaran. Bukan mengagungkan secara berlebihan, sehingga sampai
melupakan cinta kepada Tuhan, melalaikan pengabdian kita kepada Allah. Cinta
kepada mahluk secara berlebihan, mengakibatkan diri kita lebih patuh kepada
manusia, daripada patuh kepada Allah. Cinta kepada istri ataupun suami dan
cinta kepada anak, jangan sampai mengalahkan cinta kepada Allah, jangan sampai
melalaikan pengabdian kita kepada Allah. Orang yang hatinya berlebihan
mencintai keluarganya daripada mencintai Allah, akan merugi hidupnya disisi
Allah swt.
Yang
ke empat :WA YAKHIBBUUNADZ
DZUNUUBA WA YANSAUNAT TAUBAH, (cinta kepada perbuatan dosa, lupa bertaubat
kepada Allah). Cinta kepada perbuatan dosa, berarti suka melakukan
perbuatan yang dilarang oleh Allah, gemar dengan kemaksiatan, dan senang dengan
kemungkaran, jauh dengan kebaikan, dekat dengan keburukan, jauh dengan
kebajikan, dekat dengan keingkaran, dan jauh dari ketho’atan dekat dengan
kedurhakaan, karena melawan, tidak mengindahkan perintah Allah.Kita diperintah
untuk mengendalikan kehendak hawa nafsu,kita diminta dengan rela untuk menjauhi
perbuatan dosa,meninggalkan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, jangan
biarkan diri menjadi kotor dan hina dengan dosa-dosa. Marilah kita berusaha untuk
melepaskan diri, dari perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah. Tidak ada
manusia yang tidak pernah berbuat salah, tidak ada manusia yang bersih dari
dosa, oleh karena itu, Allah menyeru kepada hamba Nya agar segera bertaubat
dari kesalahan dan dosa.
Firman
Allah dalam Al-Qur’an,suroh Attahrim Ayat yang ke 8, menyebutkan :”YA AYYUHAL LADZINA AMANUU TUUBUU ILALLAHI
TAUBATAN NASHUUKHAA” (wahai orang-orang yang beriman, segera bertaubatlah
kamukepada Allah dengan taubat yang sebenarnya)
Taubat artinya kembali tho’at kepada
Allah, dengan hati yang bersih, niat yang ikhlash, karena Allah, menyesali
perbuatan masa lalu, dan berjanji dengan segenap jiwa dan raga, untuk tidak
mengulangi perbuatan dosa kembali. Pergunakan sisa hidup ini,untuk berbuat
ketho’atan, mohon ampun dan ridho Nya, jangan ditunda-tunda lagi karena kita
tidak tahu dengan pasti kapan kembali kepada Allah. Apabila lupa bertaubat
kepada Allah, sampai maut datang menjeput, maka jadilah orang yang merugi.
Yang
ke lima : YUKHIBBUUNAL
QUSHUUR WA YANSAUNAL QUBUUR (cinta
kepada tempat tinggal, lupa kepada kuburan). Setiap orang pasti percaya dan
yakin, apapun agamanya, rumah sebagai tempat tinggal yang dibangun megah, mewah
dan indah, lengkap dengan berbagai fasilitas yang serba bagus, adalah tempat
tinggal sementara di dunia ini, yang pada akhirnya akan ditinggalkan oleh
pemiliknya, pindah keliang kubur ditimbun tanah, itulah rumah tempat tinggal
kita, rumah yang sangat sederhana sekali, berlantai tanah, dan berdinding
tanah. Oleh karena itu,janganlah kita lupa diri, lupa mengabdi beribadah kepada
Allah, ketika tinggal di rumah yang kita bangun untuk kehidupan di dunia ini.Jangan
lupa, bangunlah rumah tempat peristirahatan kita, tempat penantian kita dengan
amal ibadah.
Saudara-saudara
Jama’ah Jum’at yamg dirahmati Allah,
Sebagai
kesimpulan khutbah kita, bahwa orang yang merugi kehidupannya di sisi Allah
adalah : orang yang cinta kepada dunia, lupa
kepada akhirat, cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan, cinta kepada
mahluk lupa kepada Allah, cinta kepada perbuatan dosa, lupa bertaubat, dan
cinta kepada tempat tinggal, lupa kepada kuburan. Dalam dunia ini, kita harus
menyadari bahwa, bukan disini kehidupan yang sebenarnya, disini hanya kehidupan
fatamorgana, kehidupan semu, dan kehidupan sementara. Kehidupan kita yang
sebenarnya ada disana, ada di alam akhirat, dan semua pasti kita menuju kesana.
Semoga Allah memeliharakan diri kita dari pengaruh hawanafsu yang tercela, dan
dijadikanlah kita sebagai hamba yang tho’at mengabdi kepada Nya, kepada Allah
swt. Aamiin Aamiin Aamiin Ya Allah Ya Robbal ‘Alamiin.
BAA ROKALLAHU LII WA LAKUM FIIL QUR’ANIL AZHIM WA NAFA ‘ANII WA IYYAKUM
BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL KHAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA
MINKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAL GHOFUURURROHIIM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar