Kamis, 20 September 2012

ORANG - ORANG YANG MERUGI


ORANG - ORANG YANG MERUGI


          Marilah kita menginsafi diri, bahwa hanya kepada Allah swt, kita mengabdi. Karena segala yang ada pada kita ini, pada hakekatnya bukan milik kita, yang dapat kita pertahankan untuk selamanya. Diri kita ini, hidup kita, harta yang ada sama kita, dan mati kita adalah milik Allah. Maka sangatlah pantas kita mengabdi kepada Allah swt. dengan melakukan ketho’atan kepada Nya yang memiliki segala kesempurnaan. Jangan mengabdikan diri kepada selain Allah, jangan mengabdi kepada siluman, dan jangan mengabdi kepada harta, kalau hidup kita ingin memperoleh keberuntungan serta keselamatan dunia dan akhirat.

          Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang mulia,
          Adapun judul khutbah kita adalah: ORANG-ORANG YANG MERUGI. Khatib merasa perlu untuk mengangkat masalah ini, menyampaikan kepada jama’ah, dengan harapan agar kita semua dapat menyadari arti kehidupan di dunia ini, dan jangan sampai hendaknya menjadi orang yang merugi.

          Ada  5 hal kecendrungan manusia yang dapat melupakan makna hidup yang sebenarnya, dan melalaikan diri untuk tetap mengabdi kepada Allah, sehingga manusia itu menjadi merugi disisi Allah swt.

          Yang pertama : YUKHIBBUUNAD DUNYAA,WA YANSAUNAL AAKHIROH,(yaitu orang yang mencintai dunia, tetapi melupakan akhirat). Gemerlapnya dunia memang menggoda manusia untuk menguji keimanan, apakah kita dapat mempertahankannya atau meggadaikan keimanan demi memperturutkan keinginan hawa nafsu semata, untuk menikmati kepuasan dunia, mencintai dunia, dan hidupnya mengabdi kepada dunia, terjebak dalam kebahagiaan semu yang serba palsu, sehingga melupakan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia adalah kehidupan sementara, dunia hanya merupakan persinggahan, untuk mencari bekal menuju kehidupan akhirat. Dunia yang dicintai beserta kemewahannya akan ditinggalkan berpisah dengan kita, tidak dapat dibawa menyertai kita sampai ke akhirat. Maka orang yang melupakan kehidupan akhirat, adalah orang yang hidupnya merugi disisi Allah swt.

          Yang kedua :YUKHIBBUUNAL MAAL WA YANSAUNAL KHISAAB,(cinta kepada harta lupa kepada perhitungan). Islam tidak mengkehendaki ummatnya miskin, Islam tidak mengkehendaki hidup dalam kefaqiran, Islam tidak melarang ummatnya mencari harta, Islam tidak melarang ummatnya menjadi kaya, bahkan Islam memberikan semangat kerja untuk berusaha. Nabi saw. pernah bersabda : “Bekerjalah kamu, berusahalah kamu menggapai kehidupan dunia, seolah kamu hidup selamanya, tetapi jangan lupa, beribadahlah kamu, seolah kamu akan mati esok harinya” Inilah azas keseimbangan hidup yang dianut oleh Islam. Silakan mencari dan memperbanyak harta, agar bisa berbagi kepada sesama, harta bukan untuk dicintai, harta tidak dibawa mati. Harta adalah titipan untuk dapat dipergunakan sebagai sarana mengabdi kepada Allah swt. Jangan sampai, harta menjadikan diri kita sombong, jangan sampai, harta menjadikan diri kita lupa bersyukur, dan jangan sampai, harta melalaikan pengabdian kita kepada allah. Sebagaimana telah disinggung oleh firman Allah : “ALHAAKUMUTS TSAKAASYUR KHATTAA ZURTUMUL MAQOOBIR” (kamu telah dilalaikan oleh perlombaan menumpuk harta ,hingga kamu dimasukkan keliang kubur). Mengejar dan mencari harta sepanjang hidup, dengan tidak memperdulikan bagaimana cara mendapatkannya, halal atau haram, diperoleh secara sah atau bathil, demikian pula penggunaannya, ia tidak perduli apakah harta itu digunakan sesuai pada jalan yang dikehendaki oleh Allah, adalah orang yang melupakan  perhitungan, karena hidupmya telah diperbudak oleh harta, padahal itu semua akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Orang yang cinta kepada harta, tetapi melupakan perhitungan, adalah orang yang merugi di sisi Allah swt.

          Yang ketiga : YUKHIBBUUNAL KHOLQO WA YANSAUNAL KHOLIQ, (cinta kepada mahluk lupa kepada Tuhan). Bentuk cinta seorang hamba kepada mahluk,adalah hidup saling menyayangi dan mengasihi dalam batas-batas kewajaran. Bukan mengagungkan secara berlebihan, sehingga sampai melupakan cinta kepada Tuhan, melalaikan pengabdian kita kepada Allah. Cinta kepada mahluk secara berlebihan, mengakibatkan diri kita lebih patuh kepada manusia, daripada patuh kepada Allah. Cinta kepada istri ataupun suami dan cinta kepada anak, jangan sampai mengalahkan cinta kepada Allah, jangan sampai melalaikan pengabdian kita kepada Allah. Orang yang hatinya berlebihan mencintai keluarganya daripada mencintai Allah, akan merugi hidupnya disisi Allah swt.

          Yang ke empat :WA YAKHIBBUUNADZ DZUNUUBA WA YANSAUNAT TAUBAH, (cinta kepada perbuatan dosa, lupa bertaubat kepada Allah). Cinta kepada perbuatan dosa, berarti suka melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah, gemar dengan kemaksiatan, dan senang dengan kemungkaran, jauh dengan kebaikan, dekat dengan keburukan, jauh dengan kebajikan, dekat dengan keingkaran, dan jauh dari ketho’atan dekat dengan kedurhakaan, karena melawan, tidak mengindahkan perintah Allah.Kita diperintah untuk mengendalikan kehendak hawa nafsu,kita diminta dengan rela untuk menjauhi perbuatan dosa,meninggalkan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, jangan biarkan diri menjadi kotor dan hina dengan dosa-dosa. Marilah kita berusaha untuk melepaskan diri, dari perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah. Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah, tidak ada manusia yang bersih dari dosa, oleh karena itu, Allah menyeru kepada hamba Nya agar segera bertaubat dari kesalahan dan dosa.

          Firman Allah dalam Al-Qur’an,suroh Attahrim Ayat yang ke 8, menyebutkan :”YA AYYUHAL LADZINA AMANUU TUUBUU ILALLAHI TAUBATAN NASHUUKHAA” (wahai orang-orang yang beriman, segera bertaubatlah kamukepada Allah dengan taubat yang sebenarnya)

          Taubat artinya kembali tho’at kepada Allah, dengan hati yang bersih, niat yang ikhlash, karena Allah, menyesali perbuatan masa lalu, dan berjanji dengan segenap jiwa dan raga, untuk tidak mengulangi perbuatan dosa kembali. Pergunakan sisa hidup ini,untuk berbuat ketho’atan, mohon ampun dan ridho Nya, jangan ditunda-tunda lagi karena kita tidak tahu dengan pasti kapan kembali kepada Allah. Apabila lupa bertaubat kepada Allah, sampai maut datang menjeput, maka jadilah orang yang merugi.

          Yang ke lima : YUKHIBBUUNAL QUSHUUR WA YANSAUNAL  QUBUUR (cinta kepada tempat tinggal, lupa kepada kuburan). Setiap orang pasti percaya dan yakin, apapun agamanya, rumah sebagai tempat tinggal yang dibangun megah, mewah dan indah, lengkap dengan berbagai fasilitas yang serba bagus, adalah tempat tinggal sementara di dunia ini, yang pada akhirnya akan ditinggalkan oleh pemiliknya, pindah keliang kubur ditimbun tanah, itulah rumah tempat tinggal kita, rumah yang sangat sederhana sekali, berlantai tanah, dan berdinding tanah. Oleh karena itu,janganlah kita lupa diri, lupa mengabdi beribadah kepada Allah, ketika tinggal di rumah yang kita bangun untuk kehidupan di dunia ini.Jangan lupa, bangunlah rumah tempat peristirahatan kita, tempat penantian kita dengan amal ibadah.

          Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yamg dirahmati Allah,
          Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa orang yang merugi kehidupannya di sisi Allah adalah : orang  yang cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat, cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan, cinta kepada mahluk lupa kepada Allah, cinta kepada perbuatan dosa, lupa bertaubat, dan cinta kepada tempat tinggal, lupa kepada kuburan. Dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa, bukan disini kehidupan yang sebenarnya, disini hanya kehidupan fatamorgana, kehidupan semu, dan kehidupan sementara. Kehidupan kita yang sebenarnya ada disana, ada di alam akhirat, dan semua pasti kita menuju kesana. Semoga Allah memeliharakan diri kita dari pengaruh hawanafsu yang tercela, dan dijadikanlah kita sebagai hamba yang tho’at mengabdi kepada Nya, kepada Allah swt. Aamiin Aamiin Aamiin Ya Allah Ya Robbal ‘Alamiin.

                  

BAA ROKALLAHU LII WA LAKUM FIIL QUR’ANIL AZHIM WA NAFA ‘ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL KHAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA MINKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAL GHOFUURURROHIIM


Tidak ada komentar:

Posting Komentar