Kamis, 20 September 2012

MENENTUKAN JALAN KEMBALI


MENENTUKAN JALAN KEMBALI

ALHAMDULILLAHILLADZII AN’AMNAA BINI’MATIL IIMAANI WAL ISLAAM. ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAAH WAHDAHULAA SYARIIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WAROSUULUHU LAA NABIYA BA’DAH.  ALLAAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA ROSUULILLAAH, WA ‘ALAA ALIHI WA ASKHABIHI WA MAW WAALAH. AMMA BA’DU: FA YAA AYYUHAL MUSLIMUUNA ROHIMAKUMULLAAH, USHIIKUM, WA IYYAYA BITAQWALLAAH.

          Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang mulia,
          Marilah kita menyadari, bahwa diri pribadi kita, yaitu: Sakhsi (kata orang Arab), Ingsun (kata orang Jawa), Diri sebonar diri (kata orang kito di Asahan ni), atau aku yang sejati, adalah berasal dari Allah.  Kemudian diri pribadi kita itu mengkehendaki kehidupan, oleh karena itu memerlukan wadah atau tempat untuk hidup. Maka dimulailah perjalanan kehidupan kita, dengan tahapan-tahapan proses penciptaan. Pada mulanya, penciptaan wadah, atau tempat yaitu jasad, badan jasmani ini, dimulai dari alam sulbi, kemudian ke alam benih, kemudian ke  alam rahim; alam kandungan. Itu telah pun kita lewati. Sampailah saat ini kita berada di alam dunia, alam yang sedang kita jalani, sedang kita rasakan. Alam dunia adalah alam persinggahan, dan akan meneruskan perjalanan ke alam kubur, kemudian ke alam barzah, dan ke alam akhirat, yaitu alam yang bakal kita lalui.

           Perjalanan dari alam sulbi sampai ke alam kandungan, berjalan sesuai fitrahnya. Perjalanan kehidupan di dunia ini Allah berikan alat perjuangan hidup berupa akal dan pikir. Dan untuk segala keperluan kehidupan, Allah telah ciptakan bahan baku sebagai sumber daya alam, terserah kita yang mengolahnya. Tetapi untuk perjalanan ke alam kubur sampai ke alam akhirat, Allah menyuruh kita untuk mencari bekal sendiri. Dan sebaik-baik bekal kembali kepada Allah, adalah taqwa.

          Saudara-saudara Jama’ah Jum’at Rohimakumullah,
          Secara umum, diri kita ini mempunyai dua wujud, yaitu wujud Johir dan Wujud Bathin. Wujud Johir itulah Jasmani, tubuh kita ini. Wujud bathin, adalah pribadi kita. Wujud jasmani, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dapat dilihat oleh mata keberadaannya. Adapun wujud bathin, menjadi wujud diri kita yang halus, tidak dapat dijangkau oleh panca indra dan alam materi, keberadaannya hanya bisa dirasakan, dan dilihat oleh pandangan bashiroh, pandangan hati yang bersih.

          Dengan adanya wujud bathin pada diri kita, maka jasmani kita menjadi hidup, nadi berdenyut, jantung berdetak, darah mengalir, merasa, bernafas, berfikir, dapat bergerak dan berbuat, beraktifitas dalam kehidupan ini. Tetapi, apabila diri bathin itu, Si Hidup itu, pergi meninggalkan jasmani, maka tubuh kita terbujur, diam membisu, tidak lagi bisa berbuat apa-apa, dan inilah yang dinamakan mati. Yaitu berakhirnya kehidupan bagi jasmani di alam dunia, merupakan proses awal bagi diri bathin menuju perjalanan ke   alam kubur.

          Yang merasakan kematian adalah diri bathin, yakni jiwa atau nafsi, yang mati hanya jasmaninya. Kematian bukan merupakan akhir dari perjalanan hidup. Dengan kata lain, kalau sudah mati bukan berarti semua urusan telah selesai. Jasmani yang telah ditinggalkan jiwanya dinamakan jenazah. Urusannya diselesaikan oleh saudara-saudara kita, kerabat kita, yaitu dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan.

          Tetapi Si Hidup kita, tidak ikut mati, walaupun tanpa jasmani, jiwa kita masih tetap hidup menanti urusan selanjutnya untuk mempertanggung jawabkan kehidupan yang telah dijalani bersama jasmaninya di atas dunia. Kehidupan yang kita lalui di dunia ini, sangat menentukan jalan hidup setelah kematian. Apakah jiwa kita mendapat celaka atau merasakan bahagia. Allah yang maha demokrasi memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih dan menentukan jalan hidup, serta jalan kembali yang kita kehendaki.  Firman Allah dalam Al-Qur’an,suroh Al-Balaad, ayat yang ke 10,berbunyi : “WA HADAINAHUN NAJDAIN” Artinya: “Dan Kami telah menjadikan dua jalan; sebagai pilihan”
                  
Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang mulia,
          Diri kita telah dibekali oleh Allah dengan akal fikiran, dan rasa nurani, yang dapat menangkap atau menerima isyarat-isyarat, baik isyarat yang kongkrit; nyata, maupun isyarat yang abstrak; samar, sehingga akal dan fikir dapat membedakan buruk dan baik. Demikian pula rasa nurani dapat menimbang salah dan benar.

          Dua pilihan jalan yang dimaksud oleh firman Allah tersebut adalah sebagaimana Firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh Asyar ayat yang ke 7 dan 8, meyebutkan : “WA NAFSIN WA MASAWWAHAA FA ALMAHAA FUJUUROHAA WA TAQWAAHAA”Artinya: “Demi jiwa dan penyempurnaannya, Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu hidup di jalan kefasikan atau hidup di jalan ketaqwaan”               
          Berarti, yang dimaksud jalan hidup adalah jalan bagi jiwa kita. Silakan pilih…….! Jalan kefasikan, atau jalan ketaqwaan, yang akan ditempuh dalam hidup kita ini. Gunakan akal fikiran, gunakan rasa nurani untuk menentukan buruk baiknya, untuk mempertimbangkan salah benarnya. Jangan sampai keliru memilih jalan dalam hidup ini.

          Saudara-saudara yang dirahmati Allah,
          Betapa pentingnya jalan bagi jiwa dalam hidup kita, sampai-sampai 17 kali sehari semalam disetiap raka’at sholat, kita diwajibkan bermunajat dengan ucapan : IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM (tunjukilah kami, jasmani dan jiwa kami jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi, jalan kehidupan di dunia ini, dan jalannya jiwa di akhirat nanti untuk kembali kepada Mu). SHIROTHOLLADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kebahagiaan kepada mereka) GHOIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WA LADH DHOOLIIN. (bukan jalan mereka yang engkau murkai, bukan pula jalan mereka yang kesasar, yang membuat jiwa menjadi penasaran, bukan pula jalan mereka yang sesat, yang menjadikan jiwa mendapat laknat)

          Petunjuk dan pertolongan Allah, sangat kita harapkan dalam hidup ini, agar kita dapat memilih dengan benar jalan hidup yang kita lalui, yaitu jalan ketaqwaan untuk sampai ke tujuan. Firman Allah dalam al-Qur’an, suroh Asyar, pada ayat yang ke 9 dan 10, menyebutkan : “QOD AFLAKHA MAN ZAKKAHAA, WA QOD KHOBA MAN DASSAHAA” Artinya: “Maka beruntunglah orang-orang yang memilih jalan ketaqwaan untuk membersihkan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang memilih jalan kefasiqkankarena telah mengotori jiwanya”             
          Kemanakah perjalanan yang menjadi tujuan hidup kita ini? Allah menyapa kita, melalui firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh At-Takwir, pada ayat ke 26. : FA AINA TADZHABUN? (hendak kemanakah kamu pergi, berjalan membawa hidup mu?) Pertanyaan ini merupakan teguran buat semua orang, termasuk buat diri kita. Dijelaskan pula dalam suroh As-Saffat, ayat ke 99, Nabi Ibrahim as. menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban : INNII DZAAHIBUN ILAA ROBBII SAYAHDIIN (sesungguhnya aku pergi membawa hidupku, berjalan untuk menuju kembali menemui Tuhan ku).

          Marilah kita mengambil iktibar, kemana pula kita pergi berjalan membawa hidup ini, semoga jawabannya sama degan jawaban Nabi Ibrahim as. Jauh di lubuk hati kita, sebenarnya kita mempunyai keinginan dan kerinduan untuk dapat kembali nantinya kepada Allah. Sebab diri pribadi kita, roh kita dan jiwa kita berasal dari sana, tanah air kita yang sejati berasal dari sana, yaitu berada pada Allah swt. Dalam sepotong ayat Al-Qur’an Allah berfirman : WA ILAYYAL MASYIR (dan kepada KU lah kembali mu semua) di sinilah akhir perjalanan yang menjadi tujuan hidup kita.

          Saudara-saudara Jama’ah Jumat yang mulia,
          Sebagai kesimpulan khutbah kita, saya mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Kahfi, ayat ke 110. yang berbunyi : FAMANKAANA YARJUULIQOO A ROBBIHI (barang siapa mengharap bertemu kembali kepada Tuhan nya), FAL YA’MAL AMALAN SHOLIKHAN (maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh), WA LAA YUSYRIK BI’IBAADATI ROBBIHI AKHADA (dan janganlah mempersekutukannya dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Nya).
                   Demikianlah khutbah ini disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, sebagai renungan diri bahwasannya diri kita ini darimana, sedang dimana, dan mau kemana.
                                     
BAAROKALLOHU LII WA LAKUM FIIL QUR’ANIL AZHIIM,WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA MINGKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar