MENENTUKAN JALAN KEMBALI
ALHAMDULILLAHILLADZII AN’AMNAA
BINI’MATIL IIMAANI WAL ISLAAM. ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAAH WAHDAHULAA
SYARIIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WAROSUULUHU LAA NABIYA
BA’DAH. ALLAAHUMMA SHOLLI WA SALLIM
‘ALAA ROSUULILLAAH, WA ‘ALAA ALIHI WA ASKHABIHI WA MAW WAALAH.
AMMA BA’DU: FA YAA AYYUHAL MUSLIMUUNA ROHIMAKUMULLAAH, USHIIKUM, WA
IYYAYA BITAQWALLAAH.
Saudara-saudara
Jama’ah Jum’at yang mulia,
Marilah
kita menyadari, bahwa diri pribadi kita, yaitu: Sakhsi (kata orang Arab), Ingsun
(kata orang Jawa), Diri sebonar diri (kata orang kito di Asahan ni), atau aku
yang sejati, adalah berasal dari Allah. Kemudian diri pribadi kita itu mengkehendaki
kehidupan, oleh karena itu memerlukan wadah atau tempat untuk hidup. Maka
dimulailah perjalanan kehidupan kita, dengan tahapan-tahapan proses penciptaan.
Pada mulanya, penciptaan wadah, atau tempat yaitu jasad, badan jasmani ini,
dimulai dari alam sulbi, kemudian ke alam benih, kemudian ke alam rahim; alam kandungan. Itu telah pun
kita lewati. Sampailah saat ini kita berada di alam dunia, alam yang sedang
kita jalani, sedang kita rasakan. Alam dunia adalah alam persinggahan, dan akan
meneruskan perjalanan ke alam kubur, kemudian ke alam barzah, dan ke alam
akhirat, yaitu alam yang bakal kita lalui.
Perjalanan dari alam sulbi sampai ke
alam kandungan, berjalan sesuai fitrahnya. Perjalanan kehidupan di dunia ini Allah
berikan alat perjuangan hidup berupa akal dan pikir. Dan untuk segala keperluan
kehidupan, Allah telah ciptakan bahan baku
sebagai sumber daya alam, terserah kita yang mengolahnya. Tetapi untuk
perjalanan ke alam kubur sampai ke alam akhirat, Allah menyuruh kita untuk
mencari bekal sendiri. Dan sebaik-baik bekal kembali kepada Allah, adalah
taqwa.
Saudara-saudara
Jama’ah Jum’at Rohimakumullah,
Secara
umum, diri kita ini mempunyai dua wujud, yaitu wujud Johir dan Wujud Bathin.
Wujud Johir itulah Jasmani, tubuh kita ini. Wujud bathin, adalah pribadi kita.
Wujud jasmani, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dapat dilihat oleh mata
keberadaannya. Adapun wujud bathin, menjadi wujud diri kita yang halus, tidak
dapat dijangkau oleh panca indra dan alam materi, keberadaannya hanya bisa
dirasakan, dan dilihat oleh pandangan bashiroh, pandangan hati yang bersih.
Dengan
adanya wujud bathin pada diri kita, maka jasmani kita menjadi hidup, nadi
berdenyut, jantung berdetak, darah mengalir, merasa, bernafas, berfikir, dapat
bergerak dan berbuat, beraktifitas dalam kehidupan ini. Tetapi, apabila diri
bathin itu, Si Hidup itu, pergi meninggalkan jasmani, maka tubuh kita terbujur,
diam membisu, tidak lagi bisa berbuat apa-apa, dan inilah yang dinamakan mati.
Yaitu berakhirnya kehidupan bagi jasmani di alam dunia, merupakan proses awal bagi
diri bathin menuju perjalanan ke alam
kubur.
Yang
merasakan kematian adalah diri bathin, yakni jiwa atau nafsi, yang mati hanya
jasmaninya. Kematian bukan merupakan akhir dari perjalanan hidup. Dengan kata
lain, kalau sudah mati bukan berarti semua urusan telah selesai. Jasmani yang
telah ditinggalkan jiwanya dinamakan jenazah. Urusannya diselesaikan oleh
saudara-saudara kita, kerabat kita, yaitu dimandikan, dikafani, disholatkan, dan
dikuburkan.
Tetapi
Si Hidup kita, tidak ikut mati, walaupun tanpa jasmani, jiwa kita masih tetap
hidup menanti urusan selanjutnya untuk mempertanggung jawabkan kehidupan yang
telah dijalani bersama jasmaninya di atas dunia. Kehidupan yang kita lalui di
dunia ini, sangat menentukan jalan hidup setelah kematian. Apakah jiwa kita
mendapat celaka atau merasakan bahagia. Allah yang maha demokrasi memberikan
kebebasan kepada kita untuk memilih dan menentukan jalan hidup, serta jalan
kembali yang kita kehendaki. Firman
Allah dalam Al-Qur’an,suroh Al-Balaad, ayat yang ke 10,berbunyi : “WA HADAINAHUN NAJDAIN” Artinya: “Dan Kami
telah menjadikan dua jalan; sebagai pilihan”
Saudara-saudara Jama’ah Jum’at yang
mulia,
Diri
kita telah dibekali oleh Allah dengan akal fikiran, dan rasa nurani, yang dapat
menangkap atau menerima isyarat-isyarat, baik isyarat yang kongkrit; nyata, maupun
isyarat yang abstrak; samar, sehingga akal dan fikir dapat membedakan buruk dan
baik. Demikian pula rasa nurani dapat menimbang salah dan benar.
Dua
pilihan jalan yang dimaksud oleh firman Allah tersebut adalah sebagaimana
Firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh Asyar ayat yang ke 7 dan 8, meyebutkan : “WA NAFSIN WA MASAWWAHAA FA ALMAHAA
FUJUUROHAA WA TAQWAAHAA”Artinya: “Demi jiwa dan penyempurnaannya, Allah telah
mengilhamkan kepada jiwa itu hidup di jalan kefasikan atau hidup di jalan
ketaqwaan”
Berarti, yang dimaksud jalan hidup
adalah jalan bagi jiwa kita. Silakan pilih…….! Jalan kefasikan, atau jalan
ketaqwaan, yang akan ditempuh dalam hidup kita ini. Gunakan akal fikiran, gunakan
rasa nurani untuk menentukan buruk baiknya, untuk mempertimbangkan salah
benarnya. Jangan sampai keliru memilih jalan dalam hidup ini.
Saudara-saudara
yang dirahmati Allah,
Betapa
pentingnya jalan bagi jiwa dalam hidup kita, sampai-sampai 17 kali sehari
semalam disetiap raka’at sholat, kita diwajibkan bermunajat dengan ucapan : IHDINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM (tunjukilah
kami, jasmani dan jiwa kami jalan yang lurus, jalan yang benar, jalan yang
Engkau ridhoi, jalan kehidupan di dunia ini, dan jalannya jiwa di akhirat nanti
untuk kembali kepada Mu). SHIROTHOLLADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM (yaitu jalan
orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kebahagiaan kepada mereka) GHOIRIL
MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WA LADH DHOOLIIN. (bukan jalan mereka yang
engkau murkai, bukan pula jalan mereka yang kesasar, yang membuat jiwa menjadi
penasaran, bukan pula jalan mereka yang sesat, yang menjadikan jiwa mendapat
laknat)
Petunjuk dan pertolongan Allah,
sangat kita harapkan dalam hidup ini, agar kita dapat memilih dengan benar
jalan hidup yang kita lalui, yaitu jalan ketaqwaan untuk sampai ke tujuan. Firman
Allah dalam al-Qur’an, suroh Asyar, pada ayat yang ke 9 dan 10, menyebutkan : “QOD AFLAKHA MAN ZAKKAHAA, WA QOD KHOBA MAN
DASSAHAA” Artinya: “Maka beruntunglah orang-orang yang memilih jalan ketaqwaan
untuk membersihkan jiwanya, dan merugilah orang-orang yang memilih jalan
kefasiqkankarena telah mengotori jiwanya”
Kemanakah
perjalanan yang menjadi tujuan hidup kita ini? Allah menyapa kita, melalui
firman Nya dalam Al-Qur’an, suroh At-Takwir, pada ayat ke 26. : FA AINA TADZHABUN? (hendak kemanakah kamu
pergi, berjalan membawa hidup mu?) Pertanyaan ini merupakan teguran buat
semua orang, termasuk buat diri kita. Dijelaskan pula dalam suroh As-Saffat, ayat
ke 99, Nabi Ibrahim as. menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban : INNII DZAAHIBUN ILAA ROBBII SAYAHDIIN
(sesungguhnya aku pergi membawa hidupku, berjalan untuk menuju kembali menemui
Tuhan ku).
Marilah
kita mengambil iktibar, kemana pula kita pergi berjalan membawa hidup ini, semoga
jawabannya sama degan jawaban Nabi Ibrahim as. Jauh di lubuk hati kita, sebenarnya
kita mempunyai keinginan dan kerinduan untuk dapat kembali nantinya kepada
Allah. Sebab diri pribadi kita, roh kita dan jiwa kita berasal dari sana, tanah air kita yang sejati berasal dari sana, yaitu berada pada
Allah swt. Dalam sepotong ayat Al-Qur’an Allah berfirman : WA ILAYYAL MASYIR (dan kepada KU lah kembali mu semua) di sinilah
akhir perjalanan yang menjadi tujuan hidup kita.
Saudara-saudara
Jama’ah Jumat yang mulia,
Sebagai
kesimpulan khutbah kita, saya mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh
Al-Kahfi, ayat ke 110. yang berbunyi : FAMANKAANA
YARJUULIQOO A ROBBIHI (barang siapa mengharap bertemu kembali kepada Tuhan
nya), FAL YA’MAL AMALAN SHOLIKHAN (maka hendaklah ia mengerjakan amal sholeh),
WA LAA YUSYRIK BI’IBAADATI ROBBIHI AKHADA (dan janganlah mempersekutukannya
dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Nya).
Demikianlah
khutbah ini disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, sebagai renungan
diri bahwasannya diri kita ini darimana, sedang dimana, dan mau kemana.
BAAROKALLOHU LII WA LAKUM FIIL QUR’ANIL AZHIIM,WA NAFA’ANII WA IYYAKUM
BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA
MINGKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar