Kamis, 20 September 2012

TANDA-TANDA LEMAH IMAN II


II
SEBAB HATI MENJADI KOTOR


                   Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
                   Pada khutbah kita beberapa Jum’at yang lalu, telah disampaikan mengenai Konsep Kebersihan dalam Islam. Bahwa kebersihan dalam Islam itu, meliputi kebersihan zhohir dan bathin. Yakni, membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dan membersihkan hati dari kotoran hawa nafsu.

                   Jasmaniah dipandang kotor, apabila ada sesuatu yang melekat dan dapat memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap kesehatan. Boleh jadi kotoran jasmaniah itu sebangsa najis, adapula sejenis kotoran yang menjijikkan. Namun apapun dia yang namanya kotoran jasmaniah mempunyai rupa, bentuk, warna, dan bau. Keberadaannya dapat dilihat. Kalau hanya untuk membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dapat dibasuh, dapat dicuci dengan menggunakan air dan deterjen sampai hilang rupa najis, hilang bentuk, warna, dan baunya, serta merasa yakin bahwa kotoran itu telah hilang. Maka jasmaniah sudah dapat dinyatakan bersih dari kotoran yang melekat.

                   Tapi bagaimana jika hati yang kotor ! Dengan apa kita harus membersihkannya! Berkenaan dengan itu, khutbah kita pada Jum’at ini  akan membahas dengan singkat mengenai Apa yang menyebabkan hati menjadi kotor.

                   Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi saw. bersabda: “INNAL MU’MINA I DZAA ADZNABA KAANAT NAKTATUN SAUDAK FII QOLBIHI”  (apabila orang yang mengaku beriman itu melakukan perbuatan dosa, maka menjadi noda bagaikan titik-titik hitam yang mengotori hatinya), “FA IN DZAADA DZAADAT FA DZALIKARRONNU” (jika dosanya bertambah, maka bertambah pula titik-titik hitam tersebut mengotori hatinya).

                   Jadi jelaslah bahwa yang mengotori hati adalah perbuatan dosa yang kita lakukan. Jika banyak melakukan perbuatan dosa, maka hati akan dipenuhi oleh titik-titik hitam . Nur Ketuhanan, cahaya iman, suara kebenaran akan tertutup oleh kotoran hati, akibat perbuatan dosa. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an: “KALLA BALROONA ‘ALAA QULUUBIHIM MAA KAANUU YAKSIBUUN” (setiap perbuatan dosa yang mereka lakukan, akan menutupi hati mereka dari kebenaran). Kebenaran yang berasal dari nuraninya sendiri pun menjadi tertutup, karena terhalang oleh gelapnya noda, apalagi kebenaran yang disampaikan melalui nasihat, ceramah, dan tausiyah oleh orang lain.

                   Perbuatan dosa, akan membekas di dalam hati, bagaikan titik-titik noda yang hitam, membuat hati menjadi kotor. Hati akan mengendalikan seluruh gerak tingkah laku perbuatan kita. Jika hati kotor, akan muncul melalui indra, dan anggota tubuh kita dalam tindak perilaku perbuatan yang buruk. IDZAA FASADAD FASADAL JASADA KULLUH” (apabila hati kotor, maka buruklah perbuatan seluruh tubuhnya). Namun jika hati kita bersih, akan muncul  melalui indra, dan anggota tubuh kita dalam tindak perilaku perbuatan yang baik. “WA IDZA SHOLUKHAT SHOLUKHAL JASADA KULLUH” (dan apabila hati bersih, maka baiklah perbuatan seluruh tubuhnya).

                   Perbuatan dosa yang berkepanjangan, menjadikan kotoran hati semakin banyak, membuat cahaya iman semakin gelap, dan semakin jauh dari panggilan kebenaran. Kesucian diri yang kita bawa sejak lahir, adalah amanah Allah untuk dijaga sesuai dengan kehendak Nya. Namun dalam kehidupan kita di dunia ini telah pun di kotori dengan dosa-dosa, mengikutkan kehendak hawanafsu. Dengan akal fikiran, jarang sekali  dipergunakan untuk menuruti perintah, dan menjauhi larangan Allah, malah sering dipergunakan untuk melawan kehendak Nya. Dengan mata ini, jarang sekali dipergunakan  untuk melihat kebenaran ayat-ayat Allah, malah sering dipergunakan sebagai jendela syahwat, mengumbar berahi.

                   Dengan dua telinga, jarang sekali dipergunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah, malah sering dipergunakan untuk mendengarkan gunjingan yang tiada berarti, sehingga  menjadi manusia yang merugi.

                   Dengan mulut serta lidah, jarang sekali  dipergunakan untuk bertasbih, bertahmid menyebut Asma’ Allah, membaca firman-firman Nya, malah sering dipergunakan untuk menyebar fitnah, sehingga orang lain hidupnya menderita.

                   Dengan wajah ini, jarang sekali dipergunakan untuk tunduk bersujud dihadapan Allah, malah sering dipergunakan untuk menunjukkan kebanggaan dan keangkuhan diri.

                   Dengan melalui dua tangan ini, jarang sekali dipergunakan untuk berbuat kebajikan, membagi kebahagiaan kepada orang lain, malah sering dipergunakan untuk berbuat aniaya dan kerusakan, merampas hak yang bukan milik kita.

                   Dengan perasaan nurani, jarang sekali dipergunakan untuk mensyukuri anugerah nikmat yang diberikan oleh Allah, malah sering dipergunakan untuk keingkaran, sehingga terbuai dengan kelalaian.

                   Dengan melalui perut ini, jarang sekali dipergunakan untuk ibadah puasa menahan lapar, tetapi malah sering dimasukkan kedalamnya minuman dan makanan yang haram, sehingga daging, urat, tulang, sumsum, dan darah yang mengalir ditubuh ini ikut menjadi kotor.

                   Dengan melalui dua kaki ini, jarang sekali dipergunakan untuk melangkah mendatangi majelis-majelis dzikir, mencari ilmu, malah sering dipergunakan untuk berjalan menuju tempat-tempat maksiat.

                   Perbuatan itu semua, adalah dosa, dan setiap dosa akan mengotori hati, dan kotoran hati akan menimbulkan penyakit bathin. Hadits riwayat Imam Baihaqqi, menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “AL ISYMU KHADZDZAA DZUL QULUUB” (dosa yang mengotori itu akibatnya menimbulkan penyakit pada hati). Jika dosanya bertambah, kotoran hatinya semakin banyak, penyakit bathinnya pun semakin meningkat.

                   Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang ke 10 :  “FII QULUU BIHIM MARODHUN FA DZAADA HUMULLOHU MARODHOO” (dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah lagi penyakitnya itu).
                   Saudara-saudara jama’ah Jumat yang mulia,
                   Apakah yang dimaksud dengan penyakit hati ? Penyakit hati yang dimaksudkan oleh firman Allah tersebut adalah, penyakit bathin. Yaitu: bangga diri, pamer, angkuh, sombong, iri, dengki, khianat, khairan, munafiq dan engkar. Dalam ilmu tasawuf, sifat-sifat demikian dikenal dengan nama penyakit sepuluh. Sifat- sifat tersebut dinyatakan sebagai penyakit bathin yang mengotori hati bagaikan bakteri atau kuman-kuman yang dapat merusak kepribadian manusia. Penyakit bathin inilah sebagai sarana bagi iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia, sehingga manusia itu hidupnya menjadi hina disisi Allah swt, bergelimang dosa, mengikut perintah iblis untuk menjadi temannya di neraka. Na’udzubillah.

                   Selagi kita masih diberi oleh Allah kesempatan hidup, berarti masih ada waktu bagi kita untuk melakukan perubahan. Yaitu melakukan perobahan sikap dari buruk menjadi baik, dari malas menjadi rajin beribadah, dan dari maksiat menjadi tho’at kepada Allah swt. Dengan pengertian segeralah bertaubat, sebelum terlambat. Jangan sampai Allah menutup pintu taubat untuk kita. Sebagaimana dijelaskan oleh Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang ke 10 : “KHOTAMALLOHU ‘ALAA QULUUBIHIM WA ‘ALAA SAM’IHIM WA ‘ALAA ABSHORIHIM GHISYAWATUN WA LAHUM  ADZAABUN ‘AZHIIM”  (apabila Allah telah menutup, mengunci mati hati mereka, dari kebenaran, menutup pendengaran mereka dari kebenaran, dan menutup penglihatan mereka dari kebenaran, maka bagi mereka sesungguhnya disediakan azab siksa yang sangat pedih).

                   Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
                   Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa yang menyebabkan hati kita menjadi kotor adalah perbuatan buruk yang kita lakukan. Dan perbuatan buruk itu mendatangkan dosa. Dan dosa-dosa itu menjadikan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan datangnya penyakit bathin, yaitu bertambahnya sifat-sifat tercela pada diri kita. Dan sifat-sifat tercela itu adalah sarana iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia bergelimang dengan dosa, agar menjadi engkar terhadap perintah Allah swt. Insya’ Allah pada kesempatan Jum’at yang lain nanti, kita akan membahas Keberadaan Pahala dan Dosa menurut Islam semoga khutbah yang disampaikan ini dapat bermamfa’at khususnya bagi diri khatib pribadi, dan bagi kita semua kaum muslimin yang dirahmati Allah swt.


WA QUR ROBBIGHFIR WARHAM WA ANTA KHOIRUR ROOHIMIIN


Disusun Oleh: Awaluddinsyah


Perhatian: Tulisan ayat mohon disesuaikan dengan Teks Al-Qur’an untuk
                   menghindari kesalahan.         
                                                `                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar