II
SEBAB
HATI MENJADI KOTOR
Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang
mulia,
Pada
khutbah kita beberapa Jum’at yang lalu, telah disampaikan mengenai Konsep Kebersihan dalam Islam. Bahwa
kebersihan dalam Islam itu, meliputi kebersihan zhohir dan bathin. Yakni,
membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dan membersihkan hati dari kotoran
hawa nafsu.
Jasmaniah
dipandang kotor, apabila ada sesuatu yang melekat dan dapat memberikan pengaruh
yang tidak baik terhadap kesehatan. Boleh jadi kotoran jasmaniah itu sebangsa
najis, adapula sejenis kotoran yang menjijikkan. Namun apapun dia yang namanya
kotoran jasmaniah mempunyai rupa, bentuk, warna, dan bau. Keberadaannya dapat
dilihat. Kalau hanya untuk membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dapat
dibasuh, dapat dicuci dengan menggunakan air dan deterjen sampai hilang rupa
najis, hilang bentuk, warna, dan baunya, serta merasa yakin bahwa kotoran itu
telah hilang. Maka jasmaniah sudah dapat dinyatakan bersih dari kotoran yang
melekat.
Tapi
bagaimana jika hati yang kotor ! Dengan apa kita harus membersihkannya!
Berkenaan dengan itu, khutbah kita pada Jum’at ini akan membahas dengan singkat mengenai Apa
yang menyebabkan hati menjadi kotor.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad, Nabi saw. bersabda: “INNAL
MU’MINA I DZAA ADZNABA KAANAT NAKTATUN SAUDAK FII QOLBIHI” (apabila orang yang mengaku beriman itu
melakukan perbuatan dosa, maka menjadi noda bagaikan titik-titik hitam yang
mengotori hatinya), “FA IN DZAADA DZAADAT FA DZALIKARRONNU” (jika dosanya bertambah,
maka bertambah pula titik-titik hitam tersebut mengotori hatinya).
Jadi jelaslah bahwa yang mengotori
hati adalah perbuatan dosa yang kita lakukan. Jika banyak melakukan perbuatan
dosa, maka hati akan dipenuhi oleh titik-titik hitam . Nur Ketuhanan, cahaya
iman, suara kebenaran akan tertutup oleh kotoran hati, akibat perbuatan dosa.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an: “KALLA
BALROONA ‘ALAA QULUUBIHIM MAA KAANUU YAKSIBUUN” (setiap perbuatan dosa yang
mereka lakukan, akan menutupi hati mereka dari kebenaran). Kebenaran yang berasal dari nuraninya
sendiri pun menjadi tertutup, karena terhalang oleh gelapnya noda, apalagi
kebenaran yang disampaikan melalui nasihat, ceramah, dan tausiyah oleh orang
lain.
Perbuatan
dosa, akan membekas di dalam hati, bagaikan titik-titik noda yang hitam,
membuat hati menjadi kotor. Hati akan mengendalikan seluruh gerak tingkah laku
perbuatan kita. Jika hati kotor, akan muncul melalui indra, dan anggota tubuh
kita dalam tindak perilaku perbuatan yang buruk. “ IDZAA FASADAD FASADAL JASADA KULLUH” (apabila hati kotor, maka buruklah
perbuatan seluruh tubuhnya). Namun
jika hati kita bersih, akan muncul
melalui indra, dan anggota tubuh kita dalam tindak perilaku perbuatan
yang baik. “WA IDZA SHOLUKHAT
SHOLUKHAL JASADA KULLUH” (dan apabila hati bersih, maka baiklah perbuatan
seluruh tubuhnya).
Perbuatan dosa yang berkepanjangan,
menjadikan kotoran hati semakin banyak, membuat cahaya iman semakin gelap, dan
semakin jauh dari panggilan kebenaran. Kesucian diri yang kita bawa sejak lahir,
adalah amanah Allah untuk dijaga sesuai dengan kehendak Nya. Namun dalam
kehidupan kita di dunia ini telah pun di kotori dengan dosa-dosa, mengikutkan
kehendak hawanafsu. Dengan akal fikiran, jarang sekali dipergunakan untuk menuruti perintah, dan
menjauhi larangan Allah, malah sering dipergunakan untuk melawan kehendak Nya.
Dengan mata ini, jarang sekali dipergunakan
untuk melihat kebenaran ayat-ayat Allah, malah sering dipergunakan
sebagai jendela syahwat, mengumbar berahi.
Dengan
dua telinga, jarang sekali dipergunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah,
malah sering dipergunakan untuk mendengarkan gunjingan yang tiada berarti,
sehingga menjadi manusia yang merugi.
Dengan
mulut serta lidah, jarang sekali dipergunakan
untuk bertasbih, bertahmid menyebut Asma’ Allah, membaca firman-firman Nya,
malah sering dipergunakan untuk menyebar fitnah, sehingga orang lain hidupnya
menderita.
Dengan
wajah ini, jarang sekali dipergunakan untuk tunduk bersujud dihadapan Allah,
malah sering dipergunakan untuk menunjukkan kebanggaan dan keangkuhan diri.
Dengan
melalui dua tangan ini, jarang sekali dipergunakan untuk berbuat kebajikan,
membagi kebahagiaan kepada orang lain, malah sering dipergunakan untuk berbuat
aniaya dan kerusakan, merampas hak yang bukan milik kita.
Dengan
perasaan nurani, jarang sekali dipergunakan untuk mensyukuri anugerah nikmat
yang diberikan oleh Allah, malah sering dipergunakan untuk keingkaran, sehingga
terbuai dengan kelalaian.
Dengan
melalui perut ini, jarang sekali dipergunakan untuk ibadah puasa menahan lapar,
tetapi malah sering dimasukkan kedalamnya minuman dan makanan yang haram,
sehingga daging, urat, tulang, sumsum, dan darah yang mengalir ditubuh ini ikut
menjadi kotor.
Dengan
melalui dua kaki ini, jarang sekali dipergunakan untuk melangkah mendatangi
majelis-majelis dzikir, mencari ilmu, malah sering dipergunakan untuk berjalan
menuju tempat-tempat maksiat.
Perbuatan
itu semua, adalah dosa, dan setiap dosa akan mengotori hati, dan kotoran hati
akan menimbulkan penyakit bathin. Hadits riwayat Imam Baihaqqi, menyebutkan
bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “AL
ISYMU KHADZDZAA DZUL QULUUB” (dosa yang mengotori itu akibatnya menimbulkan
penyakit pada hati). Jika dosanya bertambah, kotoran hatinya semakin
banyak, penyakit bathinnya pun semakin meningkat.
Sebagaimana
Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang ke 10 : “FII
QULUU BIHIM MARODHUN FA DZAADA HUMULLOHU MARODHOO” (dalam hati mereka ada
penyakit, kemudian ditambah lagi penyakitnya itu).
Saudara-saudara
jama’ah Jumat yang mulia,
Apakah
yang dimaksud dengan penyakit hati ? Penyakit hati yang dimaksudkan oleh firman
Allah tersebut adalah, penyakit bathin. Yaitu: bangga diri, pamer, angkuh,
sombong, iri, dengki, khianat, khairan, munafiq dan engkar. Dalam ilmu tasawuf,
sifat-sifat demikian dikenal dengan nama penyakit sepuluh. Sifat- sifat
tersebut dinyatakan sebagai penyakit bathin yang mengotori hati bagaikan
bakteri atau kuman-kuman yang dapat merusak kepribadian manusia. Penyakit
bathin inilah sebagai sarana bagi iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia,
sehingga manusia itu hidupnya menjadi hina disisi Allah swt, bergelimang dosa,
mengikut perintah iblis untuk menjadi temannya di neraka. Na’udzubillah.
Selagi
kita masih diberi oleh Allah kesempatan hidup, berarti masih ada waktu bagi
kita untuk melakukan perubahan. Yaitu melakukan perobahan sikap dari buruk
menjadi baik, dari malas menjadi rajin beribadah, dan dari maksiat menjadi
tho’at kepada Allah swt. Dengan pengertian segeralah bertaubat, sebelum
terlambat. Jangan sampai Allah menutup pintu taubat untuk kita. Sebagaimana
dijelaskan oleh Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang
ke 10 : “KHOTAMALLOHU ‘ALAA QULUUBIHIM WA
‘ALAA SAM’IHIM WA ‘ALAA ABSHORIHIM GHISYAWATUN WA LAHUM ADZAABUN ‘AZHIIM” (apabila Allah telah menutup, mengunci mati
hati mereka, dari kebenaran, menutup pendengaran mereka dari kebenaran, dan
menutup penglihatan mereka dari kebenaran, maka bagi mereka sesungguhnya disediakan
azab siksa yang sangat pedih).
Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang
mulia,
Sebagai
kesimpulan khutbah kita, bahwa yang menyebabkan hati kita menjadi kotor adalah perbuatan
buruk yang kita lakukan. Dan perbuatan buruk itu mendatangkan dosa. Dan dosa-dosa
itu menjadikan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan datangnya penyakit
bathin, yaitu bertambahnya sifat-sifat tercela pada diri kita. Dan sifat-sifat
tercela itu adalah sarana iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia
bergelimang dengan dosa, agar menjadi engkar terhadap perintah Allah swt.
Insya’ Allah pada kesempatan Jum’at yang lain nanti, kita akan membahas Keberadaan
Pahala dan Dosa menurut Islam semoga khutbah yang disampaikan ini dapat
bermamfa’at khususnya bagi diri khatib pribadi, dan bagi kita semua kaum
muslimin yang dirahmati Allah swt.
WA QUR ROBBIGHFIR WARHAM WA ANTA
KHOIRUR ROOHIMIIN
Disusun Oleh:
Awaluddinsyah
Perhatian: Tulisan ayat mohon
disesuaikan dengan Teks Al-Qur’an untuk
menghindari kesalahan.
`
Tidak ada komentar:
Posting Komentar