TANDA-TANDA LEMAH IMAN
Oleh: Awaluddinsyah, SPd.
ALHAMDULILLAHILLADZII AN’AMNAA
BINI’MATIL IIMAANI WAL ISLAAM MID
DINNIL FITRAH. ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAAH WAHDAHULAA
SYARIIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WAROSUULUHU LAA NABIYA BA’DAH. ALLAAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA ROSUULILLAAH, WA
‘ALAA ALIHI WA ASKHABIHI WA MAW WAALAH. AMMA BA’DU: FA YAA AYYUHAL MUSLIMUUNA
ROHIMAKUMULLAAH, USHIIKUM, WA IYYAYA BITAQWALLAAH
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat Rahimakumullah,
Marilah
kita bertaqwa kepada Allah swt dengan menjaga Iman dan meningkatkannya. Iman pada
manusia itu bisa bertambah, bisa berkurang. Juga bisa kuat, dan bisa lemah.
Ketika iman kita lemah maka kita dalam kawasan bahaya. Karena lemah iman adalah
sumber segala terjadinya kemaksiatan.
Berikut ini, khatib akan paparkan
tanda-tanda lemah iman agar kita bisa introfeksi atau mawas diri, berhati-hati
untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi karena diakibatkan lemah
iman.
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat Rahimakumullah,
Tanda-tanda
lemah iman itu, antara lain:
Pertama,
Mudah tergelincir dalam perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Sering
melakukan maksiat, akan menyebabkan perbuatan tersebut menjadi kebiasaan.
Sehingga kejelekan maksiat itu lambat laun akan menghilangkan rasa malu dari
hati seseorang. Dan perbuatan maksiat dianggap biasa-biasa saja. Bahkan
akhirnya ia akan melakukannya dengan terang-terangan. Inilah yang disinyalir
oleh Baginda Rasul, dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kata
Rasulullah, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan maksiat
secara terang-terangan. Dan sesungguhnya, diantara bentuk terang-terangan
adalah seseorang yang melakukan maksiat dimalam hari dimana Allah merahasiakan
perbuatannya itu, kemudian pada siang hari ia menceritakan pebuatannya kepada
orang lain”. Menceritakan kemaksiatannya kepada orang lain dapat
berarti membukakan aib dirinya, dan dapat berarti bangga dengan dosa-dosanya.
Apatah lagi dengan melakukan maksiat secara terang-terangan, sengaja agar
perbuatan maksiatnya diketahui oranglain, seperti judi, mabuk khamar, riba,
zina dan sebagainya. Rasa malu pada dirnya telah menipis.
Kedua, Malas
dan melalaikan ketaatan. Kalaupun ia melaksanakan ibadah, maka ia melaksanakan
dengan malas dan terpaksa. Firman Allah (QS. Annisa’: 142)
WA
IDZA QOOMUU ILAASH SHOLAAH, QOOMUU KUSAALAA YUROO-UUNAN NAAS (…Dan apabila mereka berdiri untuk sholat,
mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud di hadapan manusia).
Termasuk bentuk kelalaian pula jika seseorang tidak merasa rugi atau tidak
memperdulikan berlalunya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Demikian pula
menunda-nunda pelaksanaan ibadah.
Ketiga, Hatinya
tidak tergugah oleh ayat-ayat Al-Quran. Hatinya tidak terpengaruh oleh
ayat-ayat Allah yang berbicara tentang janji dan ancaman, perintah dan
larangan, atau bahkan ayat-ayat tentang kematian, kiamat dan siksa neraka. Orang yang lemah iman, bosan mendengarkan
Al-quran. Sementara orang mukmin akan bertambah imannya kalau mendengar
ayat-ayat Al-Quran dibacakan. Firman Allah (QS. Al-Anfal: 2)
INNAMAL
MU’ MINUUNAL LADZIINA IDZAA DZUKIROLLAHU WA JILAT QULUU BUHUM (Sesungguhnya,
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetar
hati mereka). WA IDZAA TULIYAT ‘ALAIHIM –AAYATUHU ZADAT HUM IIMANAN, WA
‘ALAA ROBBIHIM YATAWAK KALUUN (Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka karenanya. Dan hanya kepada Tuhan-lah mereka
bertawakkal).
Keempat,
Lalai dalam mengingat dan berdoa kepada Allah. Kebanyakan dari manusia, ketika
ia susah baru ia mengingat dan berdoa kepada Allah. Namun saat ia dalam keadaan
senang, ia lupa bersyukur kepada Allah. Kesenangan akan kebendaan, kemegahan
akan keduniawian membuat lemah keimanannya sehingga lalai terhadap perintah dan
larangan Allah swt. Dinyatakan Allah dalam Al-Quran sebagaimana firman Nya (QS.
An-Nisa’:142) :
WA
LAA YADZ KURUUNAL LAHA ILLA QOLIILA (….Dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekali)
Kelima, Hatinya tidak tersinggung ketika hukum-hukum Allah
dilanggar. Saat sekarang ini begitu banyak sudah hukum-hukum Allah yang
dilecehkan. Dan yang paling niris bukan orang lain yang melecehkan hukum-hukum
Allah tersebut, melainkan dilakukan oleh orang kita sendiri; orang yang mengaku
dirinya Islam. Ketika pelanggaran dan pelecehan hukum itu terjadi di depan
mata, kemudian hati kita tidak terusik, maka berhati-hatilah karena ini
pertanda iman kita sudah lemah. Akibatnya cendrung membiarkan kemaksiatan yang
terjadi di sekitar kita. Semangat untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar sudah
hilang dan pudar. Tetapi apabila kepentingan pribadinya terusik; diganggu, ia
akan marah dan membela habis-habisan. Manusia lebih banyak membela
kepentingannya sendiri dari pada berjuang membela agamanya.
Keenam, Memiliki sifat Bakhil. Ia
tidak memperhatikan dan tidak mau tahu dengan kesusahan saudaranya seiman
sesama muslim. Hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa
orang bakhil terlalu berlebihan mencintai hartanya. Hal ini dinyatakan oleh
Allah (QS. Al-‘Adiyat: 8)
WA
INNAHU LIHUBBIL KHOIRI LA SYADIID (Dan sesungguhnya cintanya kepada harta
benar-benar berlebihan). Terhadap orang yang bakhil ini Allah swt.
memberikan ancaman dan Allah akan menyulitkan urusan dunia dan akhiratnya. (QS.
Al-Lail: 8-10)
WA
AMMAA MAN BAKHILA WAS TAGHNAA, WA KADZ DZABA BIL KHUSNA, FASANU YASSIRUHU LIL
‘USROO (Dan adapun orang yang bakhil, merasa tidak perlu pertolongan serta
mendustakan kebaikan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan kesukaran;
menyulitkan baginya jalan kebaikan)
Saudara-saudara jamaah Jumat yang
dirahmati Allah,
Sebagai kesimpulan khutbah kita,
bahwa tanda-tanda lemah iman adalah: mudah tergelincir kepada perbuatan
maksiat, malas dan melalaikan ketaatan, tidak tergugah hatinya mendengar
ayat-ayat Allah, lalai dalam mengingat dan berdoa kepada Allah, tidak perduli
terhadap pelanggaran hukum-hukum Allah, dan bersikap bakhil. Memadailah kiranya
6 tanda-tanda lemah iman ini, kita jadikan untuk meintrofeksi atau menilai diri
kita, agar dapat memperbaikinya, meningkatkan keimanan, dan ketaqwaan kita
kepada Allah swt.
BAAROKALLOHU LII WA LAKUM FIIL
QUR’ANIL AZHIIM, WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL
HAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA MINGKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAS SAMII’UL
‘ALIIM.