Kamis, 20 September 2012

TANDA-TANDA LEMAH IMAN


TANDA-TANDA LEMAH IMAN
Oleh: Awaluddinsyah, SPd.
ALHAMDULILLAHILLADZII AN’AMNAA BINI’MATIL IIMAANI WAL ISLAAM MID
DINNIL FITRAH.  ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAAH WAHDAHULAA SYARIIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WAROSUULUHU LAA NABIYA BA’DAH.  ALLAAHUMMA SHOLLI WA SALLIM ‘ALAA ROSUULILLAAH, WA ‘ALAA ALIHI WA ASKHABIHI WA MAW WAALAH. AMMA BA’DU: FA YAA AYYUHAL MUSLIMUUNA ROHIMAKUMULLAAH, USHIIKUM, WA IYYAYA BITAQWALLAAH
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat Rahimakumullah,
Marilah kita bertaqwa kepada Allah swt dengan menjaga Iman dan meningkatkannya. Iman pada manusia itu bisa bertambah, bisa berkurang. Juga bisa kuat, dan bisa lemah. Ketika iman kita lemah maka kita dalam kawasan bahaya. Karena lemah iman adalah sumber segala terjadinya kemaksiatan.

            Berikut ini, khatib akan paparkan tanda-tanda lemah iman agar kita bisa introfeksi atau mawas diri, berhati-hati untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi karena diakibatkan lemah iman.

Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat Rahimakumullah,
Tanda-tanda lemah iman itu, antara lain:

Pertama, Mudah tergelincir dalam perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Sering melakukan maksiat, akan menyebabkan perbuatan tersebut menjadi kebiasaan. Sehingga kejelekan maksiat itu lambat laun akan menghilangkan rasa malu dari hati seseorang. Dan perbuatan maksiat dianggap biasa-biasa saja. Bahkan akhirnya ia akan melakukannya dengan terang-terangan. Inilah yang disinyalir oleh Baginda Rasul, dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kata Rasulullah, “Setiap umatku akan dimaafkan kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan. Dan sesungguhnya, diantara bentuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan maksiat dimalam hari dimana Allah merahasiakan perbuatannya itu, kemudian pada siang hari ia menceritakan pebuatannya kepada orang lain”. Menceritakan kemaksiatannya kepada orang lain dapat berarti membukakan aib dirinya, dan dapat berarti bangga dengan dosa-dosanya. Apatah lagi dengan melakukan maksiat secara terang-terangan, sengaja agar perbuatan maksiatnya diketahui oranglain, seperti judi, mabuk khamar, riba, zina dan sebagainya. Rasa malu pada dirnya telah menipis.

Kedua, Malas dan melalaikan ketaatan. Kalaupun ia melaksanakan ibadah, maka ia melaksanakan dengan malas dan terpaksa. Firman Allah (QS. Annisa’: 142)


WA IDZA QOOMUU ILAASH SHOLAAH, QOOMUU KUSAALAA YUROO-UUNAN NAAS  (…Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud di hadapan manusia). Termasuk bentuk kelalaian pula jika seseorang tidak merasa rugi atau tidak memperdulikan berlalunya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Demikian pula menunda-nunda pelaksanaan ibadah.

Ketiga, Hatinya tidak tergugah oleh ayat-ayat Al-Quran. Hatinya tidak terpengaruh oleh ayat-ayat Allah yang berbicara tentang janji dan ancaman, perintah dan larangan, atau bahkan ayat-ayat tentang kematian, kiamat dan siksa neraka.  Orang yang lemah iman, bosan mendengarkan Al-quran. Sementara orang mukmin akan bertambah imannya kalau mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan. Firman Allah (QS. Al-Anfal: 2)

INNAMAL MU’ MINUUNAL LADZIINA IDZAA DZUKIROLLAHU WA JILAT QULUU BUHUM (Sesungguhnya, orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetar hati mereka). WA IDZAA TULIYAT ‘ALAIHIM –AAYATUHU ZADAT HUM IIMANAN, WA ‘ALAA ROBBIHIM YATAWAK KALUUN (Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya. Dan hanya kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal).

Keempat, Lalai dalam mengingat dan berdoa kepada Allah. Kebanyakan dari manusia, ketika ia susah baru ia mengingat dan berdoa kepada Allah. Namun saat ia dalam keadaan senang, ia lupa bersyukur kepada Allah. Kesenangan akan kebendaan, kemegahan akan keduniawian membuat lemah keimanannya sehingga lalai terhadap perintah dan larangan Allah swt. Dinyatakan Allah dalam Al-Quran sebagaimana firman Nya (QS. An-Nisa’:142) :

WA LAA YADZ KURUUNAL LAHA ILLA QOLIILA (….Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali)

            Kelima, Hatinya tidak tersinggung ketika hukum-hukum Allah dilanggar. Saat sekarang ini begitu banyak sudah hukum-hukum Allah yang dilecehkan. Dan yang paling niris bukan orang lain yang melecehkan hukum-hukum Allah tersebut, melainkan dilakukan oleh orang kita sendiri; orang yang mengaku dirinya Islam. Ketika pelanggaran dan pelecehan hukum itu terjadi di depan mata, kemudian hati kita tidak terusik, maka berhati-hatilah karena ini pertanda iman kita sudah lemah. Akibatnya cendrung membiarkan kemaksiatan yang terjadi di sekitar kita. Semangat untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar sudah hilang dan pudar. Tetapi apabila kepentingan pribadinya terusik; diganggu, ia akan marah dan membela habis-habisan. Manusia lebih banyak membela kepentingannya sendiri dari pada berjuang membela agamanya.

            Keenam, Memiliki sifat Bakhil. Ia tidak memperhatikan dan tidak mau tahu dengan kesusahan saudaranya seiman sesama muslim. Hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri. Ketahuilah bahwa orang bakhil terlalu berlebihan mencintai hartanya. Hal ini dinyatakan oleh Allah (QS. Al-‘Adiyat: 8)
           
WA INNAHU LIHUBBIL KHOIRI LA SYADIID (Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan). Terhadap orang yang bakhil ini Allah swt. memberikan ancaman dan Allah akan menyulitkan urusan dunia dan akhiratnya. (QS. Al-Lail: 8-10)

WA AMMAA MAN BAKHILA WAS TAGHNAA, WA KADZ DZABA BIL KHUSNA, FASANU YASSIRUHU LIL ‘USROO (Dan adapun orang yang bakhil, merasa tidak perlu pertolongan serta mendustakan kebaikan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan kesukaran; menyulitkan baginya jalan kebaikan)

            Saudara-saudara jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
            Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa tanda-tanda lemah iman adalah: mudah tergelincir kepada perbuatan maksiat, malas dan melalaikan ketaatan, tidak tergugah hatinya mendengar ayat-ayat Allah, lalai dalam mengingat dan berdoa kepada Allah, tidak perduli terhadap pelanggaran hukum-hukum Allah, dan bersikap bakhil. Memadailah kiranya 6 tanda-tanda lemah iman ini, kita jadikan untuk meintrofeksi atau menilai diri kita, agar dapat memperbaikinya, meningkatkan keimanan, dan ketaqwaan kita kepada Allah swt.
           


BAAROKALLOHU LII WA LAKUM FIIL QUR’ANIL AZHIIM, WA NAFA’ANII WA IYYAKUM BIMAA FIIHI MINAL AYAATI WADZ DZIKRIL HAKIIM WA TAQOBBALALLAHU MINNAA WA MINGKUM TILAA WA TAHU INNAHU HUWAS SAMII’UL ‘ALIIM.

TANDA-TANDA LEMAH IMAN II


II
SEBAB HATI MENJADI KOTOR


                   Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
                   Pada khutbah kita beberapa Jum’at yang lalu, telah disampaikan mengenai Konsep Kebersihan dalam Islam. Bahwa kebersihan dalam Islam itu, meliputi kebersihan zhohir dan bathin. Yakni, membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dan membersihkan hati dari kotoran hawa nafsu.

                   Jasmaniah dipandang kotor, apabila ada sesuatu yang melekat dan dapat memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap kesehatan. Boleh jadi kotoran jasmaniah itu sebangsa najis, adapula sejenis kotoran yang menjijikkan. Namun apapun dia yang namanya kotoran jasmaniah mempunyai rupa, bentuk, warna, dan bau. Keberadaannya dapat dilihat. Kalau hanya untuk membersihkan diri dari kotoran jasmaniah, dapat dibasuh, dapat dicuci dengan menggunakan air dan deterjen sampai hilang rupa najis, hilang bentuk, warna, dan baunya, serta merasa yakin bahwa kotoran itu telah hilang. Maka jasmaniah sudah dapat dinyatakan bersih dari kotoran yang melekat.

                   Tapi bagaimana jika hati yang kotor ! Dengan apa kita harus membersihkannya! Berkenaan dengan itu, khutbah kita pada Jum’at ini  akan membahas dengan singkat mengenai Apa yang menyebabkan hati menjadi kotor.

                   Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi saw. bersabda: “INNAL MU’MINA I DZAA ADZNABA KAANAT NAKTATUN SAUDAK FII QOLBIHI”  (apabila orang yang mengaku beriman itu melakukan perbuatan dosa, maka menjadi noda bagaikan titik-titik hitam yang mengotori hatinya), “FA IN DZAADA DZAADAT FA DZALIKARRONNU” (jika dosanya bertambah, maka bertambah pula titik-titik hitam tersebut mengotori hatinya).

                   Jadi jelaslah bahwa yang mengotori hati adalah perbuatan dosa yang kita lakukan. Jika banyak melakukan perbuatan dosa, maka hati akan dipenuhi oleh titik-titik hitam . Nur Ketuhanan, cahaya iman, suara kebenaran akan tertutup oleh kotoran hati, akibat perbuatan dosa. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an: “KALLA BALROONA ‘ALAA QULUUBIHIM MAA KAANUU YAKSIBUUN” (setiap perbuatan dosa yang mereka lakukan, akan menutupi hati mereka dari kebenaran). Kebenaran yang berasal dari nuraninya sendiri pun menjadi tertutup, karena terhalang oleh gelapnya noda, apalagi kebenaran yang disampaikan melalui nasihat, ceramah, dan tausiyah oleh orang lain.

                   Perbuatan dosa, akan membekas di dalam hati, bagaikan titik-titik noda yang hitam, membuat hati menjadi kotor. Hati akan mengendalikan seluruh gerak tingkah laku perbuatan kita. Jika hati kotor, akan muncul melalui indra, dan anggota tubuh kita dalam tindak perilaku perbuatan yang buruk. IDZAA FASADAD FASADAL JASADA KULLUH” (apabila hati kotor, maka buruklah perbuatan seluruh tubuhnya). Namun jika hati kita bersih, akan muncul  melalui indra, dan anggota tubuh kita dalam tindak perilaku perbuatan yang baik. “WA IDZA SHOLUKHAT SHOLUKHAL JASADA KULLUH” (dan apabila hati bersih, maka baiklah perbuatan seluruh tubuhnya).

                   Perbuatan dosa yang berkepanjangan, menjadikan kotoran hati semakin banyak, membuat cahaya iman semakin gelap, dan semakin jauh dari panggilan kebenaran. Kesucian diri yang kita bawa sejak lahir, adalah amanah Allah untuk dijaga sesuai dengan kehendak Nya. Namun dalam kehidupan kita di dunia ini telah pun di kotori dengan dosa-dosa, mengikutkan kehendak hawanafsu. Dengan akal fikiran, jarang sekali  dipergunakan untuk menuruti perintah, dan menjauhi larangan Allah, malah sering dipergunakan untuk melawan kehendak Nya. Dengan mata ini, jarang sekali dipergunakan  untuk melihat kebenaran ayat-ayat Allah, malah sering dipergunakan sebagai jendela syahwat, mengumbar berahi.

                   Dengan dua telinga, jarang sekali dipergunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah, malah sering dipergunakan untuk mendengarkan gunjingan yang tiada berarti, sehingga  menjadi manusia yang merugi.

                   Dengan mulut serta lidah, jarang sekali  dipergunakan untuk bertasbih, bertahmid menyebut Asma’ Allah, membaca firman-firman Nya, malah sering dipergunakan untuk menyebar fitnah, sehingga orang lain hidupnya menderita.

                   Dengan wajah ini, jarang sekali dipergunakan untuk tunduk bersujud dihadapan Allah, malah sering dipergunakan untuk menunjukkan kebanggaan dan keangkuhan diri.

                   Dengan melalui dua tangan ini, jarang sekali dipergunakan untuk berbuat kebajikan, membagi kebahagiaan kepada orang lain, malah sering dipergunakan untuk berbuat aniaya dan kerusakan, merampas hak yang bukan milik kita.

                   Dengan perasaan nurani, jarang sekali dipergunakan untuk mensyukuri anugerah nikmat yang diberikan oleh Allah, malah sering dipergunakan untuk keingkaran, sehingga terbuai dengan kelalaian.

                   Dengan melalui perut ini, jarang sekali dipergunakan untuk ibadah puasa menahan lapar, tetapi malah sering dimasukkan kedalamnya minuman dan makanan yang haram, sehingga daging, urat, tulang, sumsum, dan darah yang mengalir ditubuh ini ikut menjadi kotor.

                   Dengan melalui dua kaki ini, jarang sekali dipergunakan untuk melangkah mendatangi majelis-majelis dzikir, mencari ilmu, malah sering dipergunakan untuk berjalan menuju tempat-tempat maksiat.

                   Perbuatan itu semua, adalah dosa, dan setiap dosa akan mengotori hati, dan kotoran hati akan menimbulkan penyakit bathin. Hadits riwayat Imam Baihaqqi, menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “AL ISYMU KHADZDZAA DZUL QULUUB” (dosa yang mengotori itu akibatnya menimbulkan penyakit pada hati). Jika dosanya bertambah, kotoran hatinya semakin banyak, penyakit bathinnya pun semakin meningkat.

                   Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang ke 10 :  “FII QULUU BIHIM MARODHUN FA DZAADA HUMULLOHU MARODHOO” (dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah lagi penyakitnya itu).
                   Saudara-saudara jama’ah Jumat yang mulia,
                   Apakah yang dimaksud dengan penyakit hati ? Penyakit hati yang dimaksudkan oleh firman Allah tersebut adalah, penyakit bathin. Yaitu: bangga diri, pamer, angkuh, sombong, iri, dengki, khianat, khairan, munafiq dan engkar. Dalam ilmu tasawuf, sifat-sifat demikian dikenal dengan nama penyakit sepuluh. Sifat- sifat tersebut dinyatakan sebagai penyakit bathin yang mengotori hati bagaikan bakteri atau kuman-kuman yang dapat merusak kepribadian manusia. Penyakit bathin inilah sebagai sarana bagi iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia, sehingga manusia itu hidupnya menjadi hina disisi Allah swt, bergelimang dosa, mengikut perintah iblis untuk menjadi temannya di neraka. Na’udzubillah.

                   Selagi kita masih diberi oleh Allah kesempatan hidup, berarti masih ada waktu bagi kita untuk melakukan perubahan. Yaitu melakukan perobahan sikap dari buruk menjadi baik, dari malas menjadi rajin beribadah, dan dari maksiat menjadi tho’at kepada Allah swt. Dengan pengertian segeralah bertaubat, sebelum terlambat. Jangan sampai Allah menutup pintu taubat untuk kita. Sebagaimana dijelaskan oleh Firman Allah dalam Al-Qur’an, suroh Al-Baqoroh, pada ayat yang ke 10 : “KHOTAMALLOHU ‘ALAA QULUUBIHIM WA ‘ALAA SAM’IHIM WA ‘ALAA ABSHORIHIM GHISYAWATUN WA LAHUM  ADZAABUN ‘AZHIIM”  (apabila Allah telah menutup, mengunci mati hati mereka, dari kebenaran, menutup pendengaran mereka dari kebenaran, dan menutup penglihatan mereka dari kebenaran, maka bagi mereka sesungguhnya disediakan azab siksa yang sangat pedih).

                   Saudara-saudara jama’ah Jum’at yang mulia,
                   Sebagai kesimpulan khutbah kita, bahwa yang menyebabkan hati kita menjadi kotor adalah perbuatan buruk yang kita lakukan. Dan perbuatan buruk itu mendatangkan dosa. Dan dosa-dosa itu menjadikan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan datangnya penyakit bathin, yaitu bertambahnya sifat-sifat tercela pada diri kita. Dan sifat-sifat tercela itu adalah sarana iblis untuk menjerumuskan kehidupan manusia bergelimang dengan dosa, agar menjadi engkar terhadap perintah Allah swt. Insya’ Allah pada kesempatan Jum’at yang lain nanti, kita akan membahas Keberadaan Pahala dan Dosa menurut Islam semoga khutbah yang disampaikan ini dapat bermamfa’at khususnya bagi diri khatib pribadi, dan bagi kita semua kaum muslimin yang dirahmati Allah swt.


WA QUR ROBBIGHFIR WARHAM WA ANTA KHOIRUR ROOHIMIIN


Disusun Oleh: Awaluddinsyah


Perhatian: Tulisan ayat mohon disesuaikan dengan Teks Al-Qur’an untuk
                   menghindari kesalahan.         
                                                `                           

PENYEBAB KESOMBONGAN


PENYEBAB KESOMBONGAN
Oleh: Awaluddinsyah, SPd.

ALHAMDLLLAHI ROBBIL ‘ALAMIIN, WAL ‘AQIBATUL LIL MUTTAQIIN. WA LAA ‘UDWAANA ILLA ‘ALAZHOOLIMIIN. ASYHADU ANLAA ILAHA ILALLAH, WAH DAHULAA SYARIIKALAHUL HAQQUL MUBIIN. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WA ROSULUHUS SHODIQUL WA’ DIL AMIIN. ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA ALIHI WA SHOHBIHI AJMA ‘IIN. AMMAA BA’DU, FAYAA IBAADALLAAH, ITTAQULLAAHA HAQQO TUQOTIH WA LAA TAMUUTUNNA WA ANTUM MUSLIMUUN.


Saudara-saudara jamaah Jumat yang mulia,
Marilah kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba yang bertakwa, dengan tetap melaksanakan perintah Allah, dan senantiasa pula untuk berusaha menjauhi larangan Allah, sembari kita mengharapkan pertolongan Allah swt agar diberi kekuatan dan kewaspadaan untuk terhindar dari godaan Iblis laknatullah, yang senantiasa berupaya menyesatkan kehidupan manusia dan mengajak mengingkari kebenaran sehingga jauh dari ajaran Allah dan rasul. Na ‘udzu billahi min zalik.

Saudara-saudaraku seiman yang dirahmati Allah,
Bahwa dosa pertama mahluk terhadap Tuhannya adalah dosa kesombongan. Pelakunya adalah Iblis. Kesombongan tidak hanya menyebabkan lupa diri kepada Allah, tetapi juga dapat menyebabkan durhaka kepada Allah, karena telah membantah dan mengingkari perintah Allah. Iblis lupa siapa dirinya, dibanding dengan kebesaran dan keagungan Allah. Ketika Iblis diperintah Allah untuk sujud memberi penghormatan kepada Nabi Adam as, dengan berani dan lantang Iblis menolak perintah Allah tersebut.

Sebagaimana disebutkan dalam al-quran  Surah Al-A’raf ayat 12 ; QULNAA LIL MALAA-IKATIS JUDUU LI ADAMA FASAJADU ILLA IBLIS, LAM YAKUM MINAS SAJIDIIN” (Allah berfirman, kami katakan kepada para malaikat, bersujudlah kamu kepada Adam, maka merekapun bersujud, kecuali Iblis yang ingkar kepada perintah itu, dia tidak termasuk golongan yang bersujud). Allah bertanya kepada Iblis : “QOO LA MAA MANA ‘AKA ALLA TASJUDA IDZ AMAR TUKA” (Apakah yang menghalangimu untuk bersujud memberikan penghormatan kepada Adam?). Iblis menjawab : “QOO LA, ANAA KHOIRUM MINHU, KHOLAQTANII MIN NAAR, WA KHOLAQTAHU MIN THIIN” (Kata Iblis, aku lebih baik dari Adam, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah).

Atas penolakan Iblis terhadap perintah Allah, maka Allah murka dan mengutuk Iblis. Bagaimana sikap Iblis terhadap laknat Allah tersebut? Iblis bukan merenungi dan menyesali perbuatannya, malah dia semakin berani menghujat dan mencerca Allah.

Saudara-saudara, jika kita pahami dari dialog Allah dengan Iblis yang tersebut dalam Al-Quran, bahwa munculnya kesombongan itu diawali dari rasa iri, kemudian menjadi keakuan diri. Yaitu merasa aku paling lebih dari yang lain, merasa aku paling hebat, dan merasa aku paling sempurna. Dalam hal ini Iblis merasa paling hebat dari Adam, Iblis merasa paling sempurna dari Adam, dan Iblis merasa lebih tinggi dan mulia kedudukannya dari Adam. Sehingga ia enggan untuk bersujud memberi penghormatan kepada Adam. Sifat kemaha sempurnaan yang hanya milik Allah seakan menjadi miliknya. Oleh karena itu waspadalah kita jangan sampai terjangkit dengan kesombongan.

Iblis telah bersumpah di hadapan Allah, untuk menularkan virus kesombongan ini kepada manusia melalui berbagai cara dan upaya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surah Al-A’raf ayat 17 : “TSUMMA LA ATIYANNAHUM MIM BAINI AIDIHIM, WA MIN KHOLFIHIM, WA ‘AN AIMANIHIM, WA ‘AN SYAMAA ILIHIM, WA LAA TAJIDU AKSYAROHUM SYAKIRIIN” (Iblis menyatakan, Aku akan mendatangi Adam dan anak cucunya sampai hari akhirat, untuk menyesatkannya. Aku akan perdaya mereka dari berbagai arah; dari depan, dari belakang, dari kanan dan kiri mereka. “WA LAA TAJIDU AKSYAROHUM SYAKIRIIN” Dan Engkau wahai Tuhan, tidak akan mendapati kebanyakan mereka sebagai orang-orang yang bersyukur)

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Ada beberapa celah yang dapat dijadikan Iblis sebagai perangkap atau jebakan untuk menularkan virus kesombongan kepada ummat manusia, diantaranya :

Pertama, melalui lmu pengetahuan.
Iblis senantiasa menghasud orang-orang yang berilmu agar merasa sombong dengan ilmunya, berlaku takabbur dengan pengetahuannya, membanggakan diri dengan kelebihannya. Orang yang terjebak akan menganggab dirinya paling berilmu, ia lupa bahwa ilmu itu adalah milik Allah.

Kedua, melalui Amal ibadah.
Kesombongan secara halus, juga ditiupkan Iblis kepada para ahli ibadah. Dengan ibadah yang dilakukannya tidak sedikit orang yang terjebak, merasa seolah-olah telah menjadi orang yang paling taat, merasa menjadi orang yang paling hebat amalnya, dan merasa orang yang paling bersih dirinya dari dosa. Akibatnya dia akan mencemooh dan merendahkan amal ibadah orang lain, dan membanggakan amal ibadahnya sendiri, merasa takjub dengan ibadah yang dikerjakannya.

Ketiga, melalui harta kekayaan.
Harta, kekayaan dan kemewahan juga banyak membuat orang lupa diri. Iblis  menggoda pemiliknya untuk menjauhkan dari ajaran Allah dan Rasul. Sehingga menjadi sombong, angkuh dan tinggi hati di hadapan Allah apalagi dihadapan sesama manusia. Orang-orang miskin dan lemah tidak diperduli, akhirnya sifat kikirnyapun semakin menjadi, sehingga membawa kekufuran dan murka ilahi.

Keempat, melalui kedudukan dan jabatan.
Iblis senantiasa mempengaruhi orang yang punya kedudukan dan jabatan untuk berbuat kesombongan, sekecil dan serendah apapun jabatan yang diemban. Melalui kekuasaan, kewenangan, dan kebijakan yang ada pada orang tersebut,  Iblis tetap berupaya untuk membelokkan amanah yang telah di percayakan kepadanya. 

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Sebagai kesimpulan khutbah kita, hindarilah sifat iri, sombong, angkuh dan takabbur. Janganlah kita sombong dengan kelebihan Ilmu yang ada pada diri kita. Janganlah kita merasa sombong dengan amal ibadah yang kita laksanakan. Janganlah kita sombong dengan harta kekayaan yang dititipkan kepada kita, dan janganlah kita sombong dengan jabatan yang diamanahkan kepada kita. Sebab semuanya itu adalah pemberian Allah yang harus disyukuri. Akhirnya marilah kita berserah diri kepada Allah untuk mohon kekuatan dan perlindungan Allah dari kesombongan Iblis laknatullah.

BAROKALLAHU LII WA LAKUM, WA LISAA IRIL MUKMINIIN, INNAHU HUWAL GHOFURUR ROHIIM, WA QUL ROBBIGH FIR WAR HAM WA ANTA KHOIRUR ROHIMIIN.